Harga Minyak Brent Naik 1,11% ke US$103,73 usai Trump Bantah Longgarkan Sanksi Iran

Penulis: Wisnu Wardana  •  Rabu, 30 September 2026 | 10:18:01 WIB
Harga minyak mentah Brent menguat 1,11 persen ke level US$103,73 per barel pada perdagangan Rabu (30/9).

SULAWESI UTARA — Harga minyak mentah Brent menguat US$1,14 atau 1,11 persen ke level US$103,73 per barel pada perdagangan Rabu (30/9), sementara WTI naik 0,38 persen menjadi US$89,72 per barel. Kenaikan terjadi setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump membantah laporan media soal pelonggaran sanksi terhadap Iran. Secara bulanan, Brent membukukan lonjakan 14 persen, tertinggi sejak Juli.

Reuters melaporkan, penguatan harga minyak dunia berlangsung di tengah upaya diplomasi Qatar yang mendorong ruang negosiasi antara Washington dan Teheran. Sebelumnya, harga sempat terkoreksi hingga 2,5 persen ke kisaran US$102 per barel akibat kabar pemulihan pasokan minyak mentah dari kawasan Timur Tengah.

Selisih Brent-WTI Melebar ke Titik Terlebar Empat Bulan

Selisih harga antara Brent dan WTI melebar ke titik terlebar dalam empat bulan terakhir. Pemicunya adalah kecemasan pelaku pasar terhadap wacana pembatasan ekspor diesel oleh Amerika Serikat.

Kebijakan itu berpotensi memicu penumpukan pasokan di pasar domestik AS, sekaligus meredam minat kilang untuk memproses minyak mentah. Sebagai alternatif menjelang pemilu November, Trump dilaporkan mempertimbangkan izin penjualan red-dyed diesel demi meringankan beban harga konsumen.

Trump Bantah Laporan Axios soal Pelonggaran Sanksi

Presiden Trump secara tegas membantah laporan media Axios yang menyebutkan kesediaannya melonggarkan sanksi dan mencairkan dana Iran yang dibekukan. Bantahan disampaikan melalui platform Truth Social.

"Laporan itu tidak benar. Saya TIDAK menawarkan apa pun kepada mereka," tulis Trump.

Dari lini diplomatik, Qatar menyatakan harapannya agar diplomasi bolak-balik antara AS dan Iran membuahkan hasil positif. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Qatar Majed al-Ansari menyampaikan pihaknya terus memfasilitasi pertukaran pesan antar kedua pihak.

"Kami terus memfasilitasi pertukaran pesan antar kedua pihak dan berupaya membangun titik temu guna mencapai kesepakatan yang membebaskan kita semua dari dampak buruk konflik ini," ungkap al-Ansari.

Pasokan Timur Tengah Cetak Rekor, Stok AS Naik

Head of Energy Research di MST Marquee Saul Kavonic menilai sejumlah faktor sempat menahan laju kenaikan harga. Tanda-tanda pulihnya lalu lintas pasokan melalui Selat Hormuz, harapan atas alternatif kebijakan ekspor diesel AS, serta ketiadaan eskalasi besar dari pihak Iran dalam 24 jam terakhir menjadi penahannya.

"Situasi di lapangan tetap volatil, sementara logistik pengiriman minyak masih mahal dan serba terbatas," ujar Kavonic.

Di sisi pasokan, Arab Saudi telah mengoperasikan kembali pipa East-West dan melanjutkan pemuatan tanker minyak di pelabuhan Yanbu, Laut Merah. Data Kpler menunjukkan ekspor minyak mentah produsen Timur Tengah pada September melonjak hingga 16,328 juta barel per hari. Angka itu menjadi rekor tertinggi sejak konflik AS-Israel dengan Iran pecah pada akhir Februari lalu.

Data American Petroleum Institute (API) menunjukkan stok minyak mentah AS naik sekitar 1,02 juta barel pada pekan yang berakhir 25 September. Kenaikan itu disertai peningkatan persediaan bensin dan penurunan stok. Pasar kini menantikan rilis resmi data persediaan dari US Energy Information Administration (EIA).

Tekanan bagi Importir dan Konsumen Energi Indonesia

Bagi Indonesia, kenaikan harga minyak mentah berpotensi menekan posisi neraca perdagangan migas dan memperlebar defisit anggaran subsidi energi. Pemerintah perlu mencermati dampak lanjutan terhadap harga BBM nonsubsidi dan biaya logistik domestik jika tren kenaikan berlanjut.

Pelaku pasar energi dalam negeri juga mencermati perkembangan diplomasi AS-Iran. Setiap sinyal pelonggaran sanksi bisa menjadi katalis penurunan harga, sementara eskalasi baru berisiko mendorong Brent kembali menembus level US$106 per barel seperti yang sempat terjadi pada Mei.

Reporter: Wisnu Wardana
Sumber: cnnindonesia.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top