TKDN Mobil Listrik Wajib 60% Tahun Depan, GAC dan MG Motors Klaim Siap

Penulis: Zainul Arifin  •  Jumat, 16 Oktober 2026 | 12:49:01 WIB
GAC Indonesia menyatakan tengah mengejar target TKDN mobil listrik 60 persen pada awal 2027.

SULAWESI UTARA — Aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) mobil listrik naik menjadi 60 persen mulai tahun depan, dan dua merek China di Indonesia menyatakan sudah menyiapkan strategi untuk memenuhinya. GAC Indonesia mengaku sedang dalam proses mengejar target tersebut, sementara MG Motors memastikan pemenuhan 40 persen akan rampung tahun ini sebelum melompat ke 60 persen.

Kewajiban TKDN 60 persen untuk mobil listrik menjadi ujian berikutnya bagi merek-merek China yang beroperasi di Indonesia. Dua pemain utama, GAC Indonesia dan MG Motors Indonesia, menyatakan tidak terbebani dengan regulasi tersebut meskipun keduanya saat ini masih berada di level 40 persen.

Product Expert GAC AION Indonesia, Iqbal Taufiqurrahman, mengungkapkan bahwa pihaknya berkomitmen penuh mengikuti aturan yang berlaku. Ia menyebut mobil-mobil GAC AION saat ini sudah mencapai TKDN 40 persen dan tengah mengejar target 60 persen di awal tahun.

"Terkait TKDN 60 persen tahun depan, kami dari GAC Indonesia berkomitmen penuh dengan regulasi yang ada. Kami akan follow the regulation untuk tahun depan," ujar Iqbal di Bekasi, Jawa Barat.

GAC AION Kejar Target 60 Persen di Awal 2027

Iqbal menjelaskan bahwa proses menuju TKDN 60 persen sedang berjalan. Pihaknya berharap di awal 2027, seluruh mobil GAC AION sudah memenuhi persyaratan tersebut.

"Sekarang kami masih berproses mengejar ke sana, mobil-mobil kami sudah TKDN 40 persen dan mengejar 60 persen di awal tahun, kita akan speed up semuanya," tambahnya.

Strategi utama yang disiapkan GAC adalah melokalisasi komponen baterai. Menurut Iqbal, baterai merupakan komponen dengan pembobotan terbesar dalam perhitungan TKDN, sehingga lokalisasi baterai akan memberikan dampak signifikan terhadap pemenuhan target.

MG Motors Fokus Selesaikan 40 Persen Tahun Ini

MG Motors Indonesia mengambil pendekatan bertahap. Head of Product MG Motors, Eko Fachruroji, menyatakan bahwa tahun ini pihaknya memfokuskan diri pada pemenuhan TKDN 40 persen terlebih dahulu sebelum masuk ke level 60 persen tahun depan.

"Terkait TKDN kami sudah mempersiapkan (strateginya). Tapi untuk tahun ini dipastikan masuk ke TKDN 40 persen (dulu). Nah, untuk menjawab regulasi pemerintah 2027 wajib 60 persen, itu sudah berjalan sekarang," ujar Eko.

Meski tidak merinci komponen apa saja yang akan dilokalisasi, Eko memastikan persiapan menuju TKDN 60 persen sudah berjalan. Langkah ini sejalan dengan strategi GAC yang menyoroti pentingnya lokalisasi baterai sebagai kunci utama.

Lokalisasi Baterai Jadi Kunci Kenaikan TKDN

Baik GAC maupun MG sepakat bahwa untuk meningkatkan TKDN dari 40 ke 60 persen, lokalisasi baterai kendaraan listrik menjadi faktor penentu. Keduanya mengaku sudah mengarah ke sana, meskipun belum ada detail konkret mengenai mitra lokal atau jadwal produksi baterai di dalam negeri.

Baterai memang komponen dengan nilai tertinggi dalam struktur biaya mobil listrik. Merakit baterai secara lokal, mulai dari sel hingga pack, berpotensi mendongkrak TKDN secara signifikan dibandingkan hanya merakit bodi atau interior.

Yang Perlu Diperhatikan

  • Belum ada penjelasan detail soal mitra lokal atau lokasi pabrik baterai dari kedua merek
  • Target 60 persen di awal 2027 masih berupa komitmen, bukan capaian
  • Regulasi TKDN 60 persen berlaku tahun depan, sementara GAC dan MG masih di level 40 persen
  • Kesiapan rantai pasok baterai lokal di Indonesia belum disebutkan secara spesifik

Pemerintah mewajibkan TKDN 60 persen untuk mobil listrik mulai tahun depan. Aturan ini bertujuan mendorong industri kendaraan listrik nasional agar tidak sekadar menjadi pasar perakitan, tetapi juga mengembangkan rantai pasok dalam negeri, terutama di sektor baterai yang selama ini masih didominasi impor.

Bagi konsumen, pemenuhan TKDN ini bisa berdampak pada harga mobil listrik. Jika merek-merek China berhasil melokalisasi baterai, biaya produksi berpotensi turun dan harga jual bisa lebih kompetitif. Sebaliknya, jika target tidak tercapai, ada risiko kenaikan harga atau pembatasan model yang bisa dijual di Indonesia.

Reporter: Zainul Arifin
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top