Pencarian

Karhutla Ancam Kesehatan Anak, PPNA Desak Negara Hadir

Rabu, 14 Oktober 2026 • 12:48:02 WIB
Karhutla Ancam Kesehatan Anak, PPNA Desak Negara Hadir
Kabut asap karhutla di Sumatera dan Kalimantan berdampak pada lebih dari 10 juta warga, termasuk bayi dan balita.

SULAWESI UTARA — Kabut asap karhutla di Sumatera dan Kalimantan membuat lebih dari 10 juta warga terdampak, termasuk bayi dan balita yang rentan gangguan pernapasan. Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah (PPNA) mendesak pemerintah memperkuat respons terpadu, mulai dari layanan kesehatan hingga keberlanjutan pendidikan anak di wilayah terdampak.

Kementerian Kesehatan mencatat lebih dari 3 juta warga di 37 kabupaten/kota pada tujuh provinsi terpapar langsung kabut asap per 21 Agustus 2026. Jumlah penduduk terdampak kemudian meluas menjadi 10.674.201 orang dalam Situation Report per 27 Agustus 2026.

Data itu belum menghitung beban yang ditanggung anak-anak. Sebanyak 13.449 kasus ISPA kumulatif tercatat, sementara 123 orang mengalami luka berat atau menjalani rawat inap akibat dampak karhutla.

Anak Kehilangan Waktu Belajar dan Udara Bersih

Laporan awal yang diterima PPNA dari kader dan warga di Kalimantan menggambarkan asap sudah masuk ke dalam rumah. Gangguan pernapasan meningkat, dan anak-anak menjalani perawatan di rumah karena kondisi yang memburuk.

Pembelajaran jarak jauh berlangsung dalam waktu lama. Kebakaran disebut mendekati permukiman, sementara warga kesulitan memperoleh air bersih dan menghadapi terganggunya pasokan sayuran.

Petugas pemadam juga dilaporkan mengalami kendala pasokan solar. Temuan lapangan ini masih memerlukan verifikasi bersama pemerintah daerah dan layanan terkait, namun PPNA menilainya sebagai sinyal kedaruratan.

Perempuan dan Bayi Menanggung Risiko Terbesar

PPNA menilai karhutla sebagai krisis perlindungan warga yang dampaknya tidak dirasakan secara merata. Perempuan, ibu hamil, ibu menyusui, bayi, balita, anak, lansia, penyandang disabilitas, dan keluarga berpenghasilan terbatas menghadapi risiko paling besar.

Ketua Umum PPNA, Monica Subastia, menegaskan penanganan karhutla harus menempatkan keselamatan warga sebagai prioritas, bukan semata berfokus pada pemadaman api.

"Negara harus hadir secara cepat, adil, dan transparan. Keselamatan warga, terutama bayi, balita, ibu hamil, dan kelompok rentan, tidak boleh menunggu viralitas. Para penyintas di Kalimantan juga tidak boleh dibiarkan berjuang sendirian di tengah kepungan asap dan krisis ekologis ini," ujar Monica dalam keterangan persnya, Selasa (13/10/26).

Luas Karhutla Capai 72.009 Hektare

Bappenas pada 9 September 2026 menyebut luas karhutla di enam provinsi prioritas mencapai 72.009,10 hektare hingga 8 September 2026. Angka ini berasal dari periode dan cakupan pelaporan yang berbeda dengan data Kementerian Kesehatan, tetapi sama-sama menunjukkan besarnya persoalan yang harus ditangani.

Monica menekankan karhutla tidak bisa hanya dihitung dari hektare lahan yang terbakar. Ada anak yang kehilangan waktu belajar, keluarga yang kesulitan mendapatkan air bersih, dan ibu yang cemas terhadap kesehatan bayinya.

"Karhutla tidak boleh hanya dihitung dari hektare lahan yang terbakar. Kita juga harus menghitung anak yang kehilangan waktu belajar, keluarga yang kesulitan mendapatkan air bersih, ibu yang cemas terhadap kesehatan bayinya, serta warga yang kehilangan rasa aman di rumah sendiri. Karena itu, kami mendesak Presiden RI bersama kementerian dan pemerintah daerah terkait untuk segera memperkuat respons terpadu, menjamin fasilitas kesehatan dan air bersih, serta memastikan anggaran kebencanaan yang memadai dan dikelola secara transparan," tegas Monica.

Yang Diminta PPNA dari Pemerintah

PPNA mendesak pemerintah memperkuat koordinasi lintas sektor dan mempercepat pemadaman serta dukungan logistik bagi petugas. Informasi kualitas udara yang mudah diakses juga dinilai penting agar ibu bisa menentukan kapan anak aman beraktivitas di luar rumah.

Layanan kesehatan dan keberlanjutan pendidikan bagi warga terdampak harus dijamin. Pengawasan kawasan rawan dan konsesi, penegakan hukum berdasarkan bukti, serta pemulihan lingkungan juga harus menjadi bagian dari penanganan.

"Keberhasilan penanganan karhutla tidak cukup diukur dari padamnya titik api. Negara juga harus memastikan warga dapat kembali menghirup udara yang aman, memperoleh air bersih, mengakses layanan dasar, dan menjalani kehidupan tanpa terus-menerus dibayangi ancaman asap," pungkasnya.

Kapan Ibu Perlu Waspada

Jika bayi atau balita di rumah mengalami batuk berkepanjangan, napas cepat, sesak, atau demam saat kabut asap pekat, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Batasi aktivitas luar ruang, tutup jendela, dan gunakan air bersih yang tersedia untuk menjaga kebersihan si kecil.

Untuk ibu hamil dan menyusui, pantau kualitas udara harian di wilayah masing-masing. Simpan nomor layanan kesehatan terdekat dan pastikan stok obat dasar serta air bersih cukup selama periode asap berlangsung.

Follow halomanado.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: suaraaisyiyah.id

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks