Startup Korea LetinAR Kantongi Rp 305 Miliar, Bikin Lensa Tipis untuk Kacamata AI

Penulis: Zainul Arifin  •  Senin, 18 Mei 2026 | 19:29:34 WIB
LetinAR, startup Korea, berhasil mengantongi pendanaan Rp 305 miliar untuk teknologi lensa kacamata AI.

SULAWESI UTARA — Persaingan bisnis kacamata pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) tidak hanya terjadi di level perangkat jadi. Pertarungan juga berlangsung di sektor pemasok komponen, terutama bagian optik yang menentukan bentuk dan kenyamanan perangkat. LetinAR, startup asal Korea Selatan, baru saja mengamankan dana segar untuk menggarap teknologi tersebut.

Pendanaan Baru dan Target IPO

LetinAR mengumumkan perolehan pendanaan 18,5 juta dolar AS (sekitar Rp 305 miliar) dari Korea Development Bank dan Lotte Ventures, lengan ventura dari raksasa ritel Korea Selatan. Putaran ini merupakan persiapan perusahaan sebelum melantai di bursa Korea Selatan pada 2027.

Startup ini didirikan pada 2016 oleh CEO Jaehyeok Kim dan CTO Jeonghun Ha, yang telah berteman sejak sekolah menengah. LG Electronics menjadi investor awal LetinAR, dan kini disebut-sebut tengah mengembangkan kacamata AI buatannya sendiri berdasarkan laporan media lokal.

Mengapa Lensa Jadi Bagian Tersulit

LetinAR tidak memproduksi kacamata utuh, melainkan modul optik — komponen lensa kecil yang memproyeksikan gambar ke bidang pandang pengguna. Komponen ini harus ringan, tipis, hemat daya, namun tetap menghasilkan gambar yang tajam dan jelas.

“Kami melihat kacamata AI sebagai platform berikutnya. Dan modul optik adalah bagian tersulit untuk dibuat dengan benar karena pembuat kacamata AI akan membutuhkan lensa yang lebih tipis, lebih ringan, dan lebih hemat daya dari yang ada saat ini,” ujar Kim.

PinTILT: Teknologi yang Mengatasi Kompromi Desain

Teknologi andalan LetinAR bernama PinTILT. Metode ini menata elemen optik mikro di dalam lensa sehingga cahaya diarahkan tepat ke mata pengguna, bukan menyebar ke segala arah. Hal ini berbeda dari teknologi waveguide yang mendominasi pasar saat ini.

CTO Ha menjelaskan bahwa waveguide bekerja seperti televisi — menyebarkan cahaya ke seluruh lensa untuk menghasilkan gambar lebar, tetapi banyak cahaya yang terbuang. Akibatnya, gambar lebih redup dan baterai cepat habis. Pendekatan alternatif bernama birdbath yang menggunakan cermin memang lebih efisien, namun strukturnya terlalu tebal untuk dimasukkan ke dalam bingkai kacamata normal.

“PinTILT menghindari kompromi itu. Dengan hanya memfokuskan cahaya yang benar-benar bisa masuk ke mata dan merekayasa sudut setiap elemen kecil di dalam lensa,” klaim Ha, teknologi ini mampu menghasilkan gambar lebih terang dalam bentuk lensa yang lebih tipis.

Konfirmasi Pasar dan Tren Global

Langkah LetinAR terjadi di tengah ledakan pasar kacamata AI global. Menurut data Omdia, pengiriman kacamata AI global melonjak menjadi 8,7 juta unit pada 2025 — naik lebih dari 300 persen dibanding tahun sebelumnya. Analis memproyeksikan angka tersebut akan menembus 15 juta unit pada tahun ini.

Raksasa teknologi seperti Meta sudah menjual kacamata Ray-Ban bertenaga AI sejak 2023. Google membangun platform Android XR, dan Samsung dikabarkan akan meluncurkan kacamata AI buatannya bersama Gentle Monster pada Juli mendatang. Di China, Huawei, Alibaba, dan Xiaomi juga bergerak di jalur yang sama.

FAQ: Seputar Teknologi Lensa Kacamata AI

Apa perbedaan utama waveguide, birdbath, dan PinTILT?
Waveguide menyebarkan cahaya ke seluruh lensa seperti TV, menghasilkan gambar lebar namun boros daya. Birdbath memantulkan cahaya langsung ke mata dengan struktur cermin, hasilnya efisien tapi lensa tebal. PinTILT mengarahkan cahaya tepat ke mata dengan elemen mikro, mengklaim kombinasi tipis, ringan, dan terang.

Kapan kacamata dengan lensa PinTILT bisa dibeli?
LetinAR belum mengumumkan jadwal komersialisasi produk akhir. Perusahaan saat ini fokus menjadi pemasok modul optik bagi produsen kacamata AI. Salah satu aplikasi awal disebut-sebut akan hadir di helm pengendara motor di Eropa tahun ini, menampilkan panah navigasi virtual di jalan raya.

Reporter: Zainul Arifin
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top