SULAWESI UTARA — Tekanan terhadap mata uang Garuda masih berlanjut. Pada hari ini, mayoritas bank besar di Tanah Air kompak menaikkan harga jual dolar AS di kisaran Rp 16.200 hingga Rp 16.400 per dolar, tergantung kebijakan masing-masing bank. Sementara itu, harga beli atau kurs yang digunakan bank untuk menyerap dolar dari masyarakat, bertengger di level Rp 15.900 hingga Rp 16.100-an.
Selisih antara harga jual dan beli atau yang dikenal dengan spread ini menjadi keuntungan bank sekaligus biaya transaksi yang harus ditanggung nasabah. Bagi Anda yang berencana menukar rupiah ke dolar, sebaiknya membandingkan kurs di beberapa bank terlebih dahulu.
Berdasarkan pantauan hingga siang hari, Bank Mandiri membanderol harga jual dolar AS di level Rp 16.350 per dolar, sementara harga belinya di Rp 15.950. BRI tak jauh berbeda, dengan harga jual Rp 16.380 dan harga beli Rp 16.000. BNI memasang harga jual Rp 16.320 dan harga beli Rp 15.980. Sementara itu, BCA yang notabene bank swasta nasional, menawarkan harga jual di Rp 16.290 dan harga beli Rp 16.040.
Perbedaan nominal ini, meski terlihat kecil, akan terasa signifikan jika volume transaksi Anda besar. Misalnya, untuk kebutuhan impor senilai USD 10.000, selisih Rp 100 per dolar saja sudah berarti tambahan biaya Rp 1 juta.
Pelemahan rupiah hari ini tidak lepas dari sentimen global. Indeks dolar AS masih perkasa di tengah ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) akan menahan suku bunga lebih lama. Data ekonomi AS yang solid membuat investor global kembali memarkir dananya di aset berdenominasi dolar.
Akibatnya, mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, tertekan. "Ini adalah dampak dari ketidakpastian arah suku bunga global. Investor cenderung wait and see dan memilih dolar sebagai aset aman," ujar analis pasar uang dari salah satu bank asing di Jakarta.
Bagi Anda yang memiliki utang dalam dolar, pelemahan rupiah jelas menjadi beban. Namun, bagi eksportir, situasi ini justru menguntungkan karena penerimaan dalam dolar menjadi lebih besar jika dirupiahkan. Sementara itu, bagi masyarakat umum yang tidak memiliki transaksi valas, dampaknya lebih tidak langsung, terutama pada harga barang impor yang berpotensi naik.
Bank Indonesia (BI) sendiri dipantau masih terus melakukan intervensi di pasar untuk menjaga stabilitas rupiah. Langkah ini dilakukan agar pelemahan tidak berlangsung terlalu dalam dan mengganggu fundamental ekonomi nasional.