MANADO — Inovasi pengelolaan limbah batu bara PLN UIP Sulawesi menuai pengakuan nasional. Program pemanfaatan FABA yang dijalankan perusahaan dinilai berhasil mengubah material sisa pembangkit listrik menjadi produk bernilai guna bagi warga.
FABA merupakan singkatan dari Fly Ash dan Bottom Ash, dua jenis sisa pembakaran batu bara di pembangkit listrik. Alih-alih menjadi limbah yang mencemari lingkungan, PLN UIP Sulawesi mengolahnya menjadi bahan baku pembuatan batako, paving block, hingga campuran beton.
Di Sulawesi Utara, produk turunan FABA ini sudah mulai dimanfaatkan untuk pembangunan infrastruktur desa dan rumah warga. Inisiatif ini sekaligus menekan biaya material bangunan yang kerap jadi keluhan masyarakat.
TOP CSR Awards 2026 merupakan ajang bergengsi yang menilai program tanggung jawab sosial perusahaan dari seluruh Indonesia. Raihan Bintang 3 oleh PLN UIP Sulawesi menempatkan program ini di jajaran terbaik nasional.
Penghargaan ini diberikan berdasarkan empat pilar penilaian utama: inovasi program, dampak sosial, keberlanjutan, serta keterlibatan masyarakat. Program FABA PLN dinilai unggul di semua aspek tersebut.
Dari sisi ekonomi, warga sekitar lokasi pembangkit di Sulut bisa mendapatkan akses material bangunan dengan harga lebih murah. Beberapa kelompok usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal juga mulai memproduksi batako dari campuran FABA untuk dijual kembali.
Dari sisi lingkungan, pemanfaatan FABA mengurangi volume limbah yang harus ditimbun di lahan. Hal ini sejalan dengan target pemerintah daerah dalam mengurangi emisi karbon dan memperbaiki kualitas udara di kawasan industri.
PLN UIP Sulawesi berencana memperluas kerja sama dengan pemerintah kabupaten dan kota di Sulut untuk mengadopsi produk FABA dalam proyek-proyek infrastruktur publik. Langkah ini diyakini bisa mempercepat pembangunan desa sekaligus menekan anggaran belanja daerah.
Perusahaan juga tengah mengkaji kemungkinan penggunaan FABA sebagai bahan substitusi semen dalam skala yang lebih besar. Jika berhasil, biaya pembangunan rumah sederhana di pedesaan bisa berkurang signifikan.
Warga yang ingin memanfaatkan produk FABA bisa menghubungi kantor PLN UIP Sulawesi terdekat atau melalui pemerintah desa masing-masing. Saat ini, distribusi produk FABA difokuskan untuk kebutuhan proyek sosial dan pembangunan infrastruktur publik.
PLN juga membuka pelatihan bagi kelompok tani dan UMKM untuk mengolah FABA menjadi produk bernilai jual. Inisiatif ini diharapkan bisa menciptakan lapangan kerja baru di Sulawesi Utara.