PELNI Bitung Tanam 200 Bibit Pohon dan Daur Ulang Life Jacket Jadi Tas-Sepatu, Libatkan 44 Persen Perempuan Pengrajin

Penulis: Alfin Murtado  •  Minggu, 07 Juni 2026 | 23:23:31 WIB
PELNI Cabang Bitung menanam 200 bibit pohon di pelabuhan sebagai bagian dari Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026.

BITUNG — PELNI Cabang Bitung menggencarkan dua program lingkungan sekaligus dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026: penghijauan pelabuhan dan daur ulang limbah jaket pelampung. Sebanyak 200 bibit pohon ditanam di kawasan operasional perusahaan di Ternate, Sampit, Parepare, dan Bima. Sementara itu, life jacket yang sudah habis masa pakai disulap menjadi produk bernilai ekonomi seperti tas dan sepatu.

Daur Ulang Life Jacket: Setiap Sepatu Hemat 755 Liter Air

Program daur ulang life jacket menjadi salah satu implementasi prinsip ekonomi sirkular PELNI. Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PELNI, Anik Hidayati, menyebut inisiatif ini tidak hanya mengurangi sampah operasional tetapi juga menciptakan lapangan kerja. "Sebanyak 44 persen pengrajin yang terlibat dalam proses produksi merupakan perempuan yang terdiri dari ibu rumah tangga dan anggota PKK," ujar Anik dalam keterangan resmi yang diterima redaksi.

Setiap satu pasang sepatu hasil daur ulang memanfaatkan 227 gram limbah material life jacket. Angka ini setara dengan pencegahan emisi karbon hingga 5,244 kilogram CO2-eq dan penghematan air sebanyak 755,56 liter dibandingkan proses produksi konvensional. "Produk ini memanfaatkan sekitar 71 persen material bekas life jacket," tambah Anik.

Kepala Cabang Bitung: Keberlanjutan adalah Investasi Jangka Panjang

Kepala Cabang PELNI Bitung, Nurul Azhar, menegaskan bahwa program ini bukan sekadar seremonial. Menurutnya, pelabuhan dan kawasan pesisir memiliki peran strategis dalam menjaga keseimbangan ekosistem laut. "Hari Lingkungan Hidup menjadi momentum bagi kami untuk memperkuat kesadaran bahwa keberlanjutan lingkungan adalah investasi jangka panjang," kata Nurul.

Ia menambahkan bahwa Bitung sebagai kota maritim sangat bergantung pada kualitas lingkungan laut dan pesisir. "Menjaga lingkungan bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan bersama demi keberlanjutan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat," ujarnya.

Kolaborasi dengan DLH dan Target Dampak Berkelanjutan

Dalam pelaksanaan program penghijauan, PELNI menggandeng Dinas Lingkungan Hidup (DLH) di berbagai daerah. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat partisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan pesisir. Anik Hidayati menekankan bahwa keberlanjutan telah menjadi bagian penting dalam strategi bisnis perusahaan. "Kami terus mendorong berbagai inisiatif keberlanjutan, mulai dari penghijauan hingga pengelolaan limbah yang memberikan manfaat bagi lingkungan sekaligus menciptakan nilai sosial dan ekonomi bagi masyarakat," pungkasnya.

Reporter: Alfin Murtado
Sumber: sulutnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top