SULAWESI UTARA — Data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) untuk Mei 2026 menunjukkan Toyota masih menjadi primadona, baik di jalur distribusi pabrik (wholesales) maupun penjualan langsung ke konsumen (retail). Capaian Toyota di wholesales nyaris dua kali lipat dari pesaing terdekatnya, Daihatsu, yang membukukan 11.140 unit.
Pendatang baru asal China, Jaecoo, menempati posisi kelima dengan penjualan wholesales 3.000 unit. Prestasi ini sekaligus menyingkirkan BYD dari papan atas. Produsen mobil listrik asal China itu hanya mampu menjual 895 unit dari pabrik ke dealer, turun drastis dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yang sempat masuk jajaran 10 besar.
Kondisi berbeda terjadi di penjualan ritel. BYD masih bertahan di peringkat ketujuh dengan 2.892 unit, menunjukkan permintaan konsumen langsung masih ada meskipun distribusi ke dealer melambat. Jaecoo konsisten di angka 3.000 unit baik di wholesales maupun retail.
Secara keseluruhan, pasar otomotif nasional mengalami kontraksi. Penjualan wholesales pada Mei 2026 tercatat 69.219 unit, anjlok 14,3 persen dibandingkan April yang mencapai 80.779 unit. Penjualan ritel juga terkoreksi 5,1 persen menjadi 71.890 unit.
Meski lesu di bulan Mei, akumulasi penjualan Januari–Mei 2026 masih cukup solid. Total wholesales mencapai 359.015 unit, sementara penjualan ritel menyentuh 359.490 unit. Angka ini menunjukkan pasar masih bergerak meskipun momentumnya melambat di pertengahan tahun.
Perbandingan dua data ini menarik dicermati. Di wholesales, Honda hanya mampu menjual 2.378 unit dan berada di peringkat ketujuh. Namun di penjualan ritel, Honda melesat ke posisi kelima dengan 3.646 unit. Artinya, stok di dealer cukup banyak dan konsumen langsung membeli dari pajangan.
Sebaliknya, Isuzu yang di wholesales menempati peringkat keenam dengan 2.570 unit, di retail justru turun ke peringkat sembilan dengan 2.231 unit. Ini mengindikasikan penumpukan unit di gudang dealer.
Berikut daftar lengkap 10 merek terlaris Mei 2026:
Dominasi Toyota tidak tergoyahkan, namun kehadiran Jaecoo dan Geely yang konsisten di 10 besar menjadi sinyal perubahan peta persaingan. Jaecoo, sebagai merek baru, langsung kompetitif tanpa harus mengandalkan insentif kendaraan listrik seperti BYD.
BYD sendiri perlu mengevaluasi strategi distribusinya. Selisih besar antara penjualan ritel (2.892 unit) dan wholesales (895 unit) menandakan dealer kelebihan stok atau permintaan konsumen tidak sebanding dengan pasokan yang dikirim pabrik. Jika tren ini berlanjut, posisi BYD di pasar Indonesia bisa semakin terancam.