MANADO — Kinerja ekspor Sulawesi Utara terus menunjukkan tren pertumbuhan positif. Sepanjang semester pertama 2026, nilai ekspor mencapai 641,50 juta dolar AS, sementara impor tercatat 101,31 juta dolar AS. Angka ini menghasilkan surplus neraca perdagangan sebesar 540,19 juta dolar AS.
Pada Juni 2026 saja, surplus neraca dagang Sulut mencapai 87,56 juta dolar AS. Nilai ekspor pada bulan tersebut tercatat 110,26 juta dolar AS, berbanding impor yang hanya 22,70 juta dolar AS.
"Nilai ekspor Sulut pada Juni 2026 mencapai 110,26 juta dolar AS, sedangkan impor mencapai 22,70 juta dolar AS," kata Kepala BPS Sulut Watekhi di Manado, Selasa.
Komoditas lemak dan minyak hewani/nabati (HS 15) masih mendominasi struktur ekspor Sulut. Nilainya mencapai 464,69 juta dolar AS pada Januari-Juni 2026, atau naik 11,82 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Komoditas ini mencakup minyak kelapa dan turunannya, produk khas yang dihasilkan dari perkebunan kelapa di berbagai kabupaten di Sulut. Kontribusinya yang besar menunjukkan ketergantungan ekspor daerah ini pada sektor perkebunan.
Sementara itu, komoditas impor terbesar adalah bahan bakar mineral (HS 27) dengan nilai 62,65 juta dolar AS. Angka ini naik 9,54 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Amerika Serikat menjadi tujuan ekspor terbesar bagi produk Sulut pada Januari-Juni 2026. Nilai ekspor ke negara tersebut mencapai 149,74 juta dolar AS, melonjak 380,85 persen dibanding periode yang sama 2025.
Lonjakan ini menjadi katalis utama pertumbuhan ekspor Sulut secara keseluruhan. Permintaan yang tinggi dari pasar AS untuk produk kelapa dan turunannya turut mendorong peningkatan nilai ekspor daerah.
Di sisi lain, Malaysia menjadi negara asal impor terbesar dengan nilai 46,16 juta dolar AS pada periode yang sama. Angka ini naik 41,02 persen dibanding periode yang sama tahun 2025.
Nilai impor Sulut pada Januari-Juni 2026 tercatat 101,31 juta dolar AS, naik 33,83 persen dibanding periode yang sama tahun 2025. Kenaikan impor bahan bakar mineral menjadi salah satu pendorong utama.
Kenaikan impor yang lebih tinggi dibanding ekspor ini perlu menjadi perhatian. Namun, surplus yang masih besar menunjukkan fundamental ekonomi daerah yang tetap kuat.
Dengan tren ekspor yang terus tumbuh, Sulut diproyeksikan mampu mempertahankan kinerja positif neraca perdagangannya hingga akhir tahun. Pemerintah daerah diharapkan terus mendorong diversifikasi produk ekspor untuk mengurangi ketergantungan pada satu komoditas utama.