MANADO — Tomohon International Flower Festival (TIFF) memiliki potensi menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara, bukan sekadar perhelatan bunga tahunan. Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Prof Dr Joy Tulung, menegaskan dampak ekonomi festival ini bisa dirasakan lintas sektor apabila dikelola secara berkelanjutan.
"TIFF bukan sekadar agenda pariwisata tahunan, tetapi merupakan salah satu instrumen penting untuk menggerakkan ekonomi daerah," kata Joy di Manado, Selasa.
Joy menjelaskan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan wisatawan akan berputar ke berbagai sektor ekonomi. Wisatawan yang datang tidak hanya membayar tiket acara, tetapi juga memakai jasa hotel, restoran, transportasi, pusat perbelanjaan, hingga membeli produk lokal.
Kondisi ini menciptakan pendapatan bagi banyak pelaku usaha sekaligus memperkuat nilai strategis pariwisata bagi perekonomian daerah. Sektor akomodasi, makan minum, perdagangan, transportasi, jasa, dan ekonomi kreatif disebut sebagai penerima manfaat utama.
Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara pada triwulan II-2026 tercatat mencapai 5,42 persen. Joy menilai kegiatan seperti TIFF berpotensi memberikan tambahan dorongan signifikan terhadap sektor-sektor penopang pertumbuhan tersebut.
Jika jumlah wisatawan mancanegara dan domestik terus meningkat, kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dipastikan semakin besar. Festival menjadi pintu masuk untuk membangun citra daerah, menarik investasi, memperluas pasar UMKM, serta memperkenalkan produk unggulan ke pasar nasional dan internasional.
Joy membandingkan TIFF dengan Chiang Mai Flower Festival di Thailand dan Keukenhof di Belanda. Kedua festival tersebut tidak hanya dikenal sebagai ajang bunga, tetapi telah menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang menghubungkan pertanian, pariwisata, perdagangan, pendidikan, dan investasi.
"Nilai tambah terbesar bukan berasal dari acaranya semata, tetapi dari aktivitas ekonomi yang terus hidup setelah festival berakhir," ujarnya.
Tantangan ke depan, menurut Joy, bukan lagi menyelenggarakan TIFF yang meriah. Yang lebih penting adalah mengubah festival ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui integrasi dengan pengembangan florikultura, agrowisata, industri kreatif, kuliner lokal, ekonomi digital, hingga promosi investasi.
Dukungan infrastruktur yang semakin baik, konektivitas transportasi yang meningkat, promosi digital yang agresif, serta kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi kunci mewujudkan hal tersebut.
"Keberhasilan TIFF tidak diukur dari berapa banyak orang yang datang selama festival berlangsung, tetapi dari seberapa besar nilai ekonomi yang tetap tinggal di Sulawesi Utara setelah para wisatawan kembali ke daerah asalnya. Itulah ukuran sesungguhnya dari sebuah festival yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Joy.