Guru Besar Unsrat Joy Tulung: TIFF Bukan Sekadar Festival Bunga, Tapi Mesin Ekonomi Sulawesi Utara

Penulis: Vikri Alfandi  •  Selasa, 11 Agustus 2026 | 16:58:01 WIB
Prof Dr Joy Tulung menyampaikan pandangannya mengenai potensi ekonomi TIFF dalam konferensi pers di Manado, Selasa.

MANADO — Tomohon International Flower Festival (TIFF) memiliki potensi menjadi katalis pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara, bukan sekadar perhelatan bunga tahunan. Guru Besar Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, Prof Dr Joy Tulung, menegaskan dampak ekonomi festival ini bisa dirasakan lintas sektor apabila dikelola secara berkelanjutan.

"TIFF bukan sekadar agenda pariwisata tahunan, tetapi merupakan salah satu instrumen penting untuk menggerakkan ekonomi daerah," kata Joy di Manado, Selasa.

Efek Berganda Belanja Wisatawan ke Sektor Lokal

Joy menjelaskan bahwa setiap rupiah yang dibelanjakan wisatawan akan berputar ke berbagai sektor ekonomi. Wisatawan yang datang tidak hanya membayar tiket acara, tetapi juga memakai jasa hotel, restoran, transportasi, pusat perbelanjaan, hingga membeli produk lokal.

Kondisi ini menciptakan pendapatan bagi banyak pelaku usaha sekaligus memperkuat nilai strategis pariwisata bagi perekonomian daerah. Sektor akomodasi, makan minum, perdagangan, transportasi, jasa, dan ekonomi kreatif disebut sebagai penerima manfaat utama.

Potensi Dorongan di Tengah Pertumbuhan Ekonomi 5,42 Persen

Pertumbuhan ekonomi Sulawesi Utara pada triwulan II-2026 tercatat mencapai 5,42 persen. Joy menilai kegiatan seperti TIFF berpotensi memberikan tambahan dorongan signifikan terhadap sektor-sektor penopang pertumbuhan tersebut.

Jika jumlah wisatawan mancanegara dan domestik terus meningkat, kontribusinya terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) dipastikan semakin besar. Festival menjadi pintu masuk untuk membangun citra daerah, menarik investasi, memperluas pasar UMKM, serta memperkenalkan produk unggulan ke pasar nasional dan internasional.

Belajar dari Chiang Mai dan Keukenhof

Joy membandingkan TIFF dengan Chiang Mai Flower Festival di Thailand dan Keukenhof di Belanda. Kedua festival tersebut tidak hanya dikenal sebagai ajang bunga, tetapi telah menjadi bagian dari ekosistem ekonomi yang menghubungkan pertanian, pariwisata, perdagangan, pendidikan, dan investasi.

"Nilai tambah terbesar bukan berasal dari acaranya semata, tetapi dari aktivitas ekonomi yang terus hidup setelah festival berakhir," ujarnya.

Integrasi dengan Florikultura dan Ekonomi Digital

Tantangan ke depan, menurut Joy, bukan lagi menyelenggarakan TIFF yang meriah. Yang lebih penting adalah mengubah festival ini menjadi mesin pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui integrasi dengan pengembangan florikultura, agrowisata, industri kreatif, kuliner lokal, ekonomi digital, hingga promosi investasi.

Dukungan infrastruktur yang semakin baik, konektivitas transportasi yang meningkat, promosi digital yang agresif, serta kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat menjadi kunci mewujudkan hal tersebut.

"Keberhasilan TIFF tidak diukur dari berapa banyak orang yang datang selama festival berlangsung, tetapi dari seberapa besar nilai ekonomi yang tetap tinggal di Sulawesi Utara setelah para wisatawan kembali ke daerah asalnya. Itulah ukuran sesungguhnya dari sebuah festival yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi," kata Joy.

Reporter: Vikri Alfandi
Sumber: manado.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top