SULAWESI UTARA — Laporan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM menunjukkan porsi PMA masih lebih besar dibanding penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang tercatat Rp 254,09 triliun. Selisih tipis sekitar Rp 3,6 triliun ini mengindikasikan keseimbangan baru antara investor asing dan domestik dalam enam bulan terakhir.
Di posisi berikutnya, sektor transportasi, gudang, dan telekomunikasi membukukan Rp 57,27 triliun. Sektor pertambangan menyusul dengan Rp 53,06 triliun. Ketiganya berkontribusi hampir 37% dari total realisasi nasional.
Sektor perumahan, kawasan industri, dan perkantoran menyusul dengan Rp 37,79 triliun, diikuti listrik, gas, dan air sebesar Rp 23,20 triliun.
Sektor konstruksi tercatat Rp 15,19 triliun, sementara tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan Rp 15 triliun. Industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain menyumbang Rp 12,70 triliun.
Paling bawah, industri karet dan plastik Rp 8,51 triliun serta industri barang dari kulit dan alas kaki Rp 8,46 triliun. Dua sektor padat karya ini justru yang paling rendah serapannya, menjadi catatan tersendiri bagi penciptaan lapangan kerja.
Distribusi investasi yang timpang antar sektor menunjukkan prioritas pemerintah yang masih berfokus pada hilirisasi sumber daya alam. Namun, sektor padat karya yang menyerap banyak tenaga kerja justru kurang menarik minat investor.