Bitcoin Tembus US$64.000 saat Ketegangan AS-Iran Mereda? Investor Kripto Indonesia Justru Diminta Waspada Gelombang Likuidasi

Penulis: Alfin Murtado  •  Selasa, 18 Agustus 2026 | 13:06:31 WIB
Bitcoin diperdagangkan di kisaran US$63.600–US$64.000 di tengah meningkatnya ketegangan AS-Iran pasca-berakhirnya gencatan senjata.
ini mendorong investor kripto Indonesia untuk mencermati risiko likuidasi akibat tingginya leverage di pasar derivatif. Penguatan ini terjadi setelah periode gencatan senjata AS-Iran berakhir pada 18 Agustus 2026, memicu kekhawatiran baru di pasar global. ISI:

MANADO — Pergerakan Bitcoin yang menembus level US$64.000 kembali menjadi sorotan pelaku pasar kripto Tanah Air. Data pasar terbaru menunjukkan aset kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar ini sempat berada di rentang US$63.600 hingga US$64.000. Angka tersebut naik sekitar 0,9 persen ke posisi US$63.605 berdasarkan catatan Barron's.

Penguatan ini terjadi di tengah meningkatnya kembali ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran setelah gencatan senjata berakhir pada 18 Agustus 2026. Reuters melaporkan harga minyak dan imbal hasil obligasi AS ikut meningkat, sementara emas dan aset kripto mencatat kenaikan tipis.

Emas dan Bitcoin: Respons Berbeda terhadap Risiko Geopolitik

Menariknya, respons pasar terhadap konflik geopolitik kali ini menunjukkan karakter yang berbeda antara emas dan Bitcoin. Emas yang secara tradisional dipandang sebagai aset defensif atau safe haven justru sempat mencetak rekor US$5.405 per troy ounce pada Januari 2026 sebelum mengalami koreksi pada bulan-bulan berikutnya.

World Gold Council mencatat risiko geopolitik, terutama konflik AS-Iran, menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kinerja emas sepanjang paruh pertama 2026.

Bitcoin, di sisi lain, masih menunjukkan karakter sebagai aset berisiko yang sangat sensitif terhadap perubahan sentimen investor. Konflik geopolitik tidak selalu membuat harga Bitcoin naik. Pada Juli lalu, misalnya, Bitcoin sempat turun menuju US$62.000 setelah meningkatnya ketegangan AS-Iran memicu kekhawatiran terhadap energi dan kondisi ekonomi global. CoinDesk mencatat Bitcoin sebelumnya berada di sekitar US$64.385 sebelum turun ke US$62.037.

Funding Rate Positif: Sinyal Bullish atau Bom Waktu?

Selain faktor geopolitik, kondisi pasar derivatif menjadi perhatian utama. Data pasar menunjukkan funding rate Bitcoin telah berada di wilayah positif sejak akhir Juni, sementara open interest futures juga meningkat. Benzinga melaporkan open interest futures Bitcoin naik dari sekitar US$44 miliar menjadi US$47,6 miliar pada pertengahan Juli.

Funding rate positif berarti pemegang posisi long umumnya membayar pemegang posisi short. Kondisi ini mengindikasikan sentimen bullish sedang mendominasi, tetapi juga menunjukkan sebagian pelaku pasar mengambil posisi dengan leverage tinggi.

Apabila sentimen tiba-tiba berubah, posisi dengan leverage tinggi dapat meningkatkan risiko terjadinya likuidasi dan memperbesar pergerakan harga. Karena itu, rebound Bitcoin di atas US$64.000 belum tentu menjadi sinyal bahwa tren naik telah kembali sepenuhnya.

Level Resistance dan Pelajaran dari Kegagalan Sebelumnya

Investor perlu memperhatikan apakah Bitcoin mampu mempertahankan level tersebut dan menembus area resistance berikutnya dengan dukungan volume serta permintaan spot yang kuat. Sebelumnya, Bitcoin beberapa kali gagal mempertahankan penguatan di atas US$64.000 hingga US$65.000.

CoinDesk mencatat Bitcoin sempat mencapai US$65.500 pada Juli sebelum kembali mengalami tekanan akibat profit taking dan meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Bagi investor Indonesia, perkembangan pasar global saat ini dapat menjadi momentum untuk memperluas wawasan mengenai berbagai kelas aset. Pergerakan saham Amerika Serikat, aset kripto, dan emas digital saat ini dapat dipantau melalui aplikasi Nanovest.

Dari sisi regulasi, PT Tumbuh Bersama Nano (Nanovest) terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta telah diasuransikan dengan Asuransi Sinarmas sebagai bagian dari perlindungan terhadap risiko cybercrime.

Reporter: Alfin Murtado
Sumber: sulutnews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top