FBI Sita Domain Botnet China yang Sempat Retas NASA dan Senat AS

Penulis: Zainul Arifin  •  Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24:31 WIB
FBI menyita sejumlah domain yang digunakan sebagai infrastruktur botnet yang diduga dikelola aktor sponsor negara China.

SULAWESI UTARA — Departemen Kehakiman AS (DoJ) mengumumkan penyitaan domain-domain yang menjadi tulang punggung operasi botnet yang diduga dikelola aktor sponsor negara China. Langkah ini membuat server komando dan kontrol (C2) botnet tersebut tidak berfungsi, sekaligus memutus akses operatornya ke infrastruktur yang selama ini dipakai untuk menyembunyikan jejak serangan.

Kelompok yang dijuluki QTFY ini disebut-sebut menjual layanan peretasan kepada kliennya, termasuk peretas dari Kementerian Keamanan Negara China. Layanan utamanya adalah menyediakan jaringan obfuskasi—lapisan yang menyamarkan lalu lintas data jahat agar sulit dilacak oleh sistem keamanan korban.

Korban: Dari NASA hingga Federal Reserve

Dokumen pengadilan yang diajukan pekan ini mengungkap rentetan korban yang terbentang sejak 2018. NASA, Federal Reserve, serta Departemen Energi, Kehakiman, dan Kesehatan AS masuk dalam daftar institusi yang berhasil ditembus. Senat AS bahkan disebut masih bisa diakses peretas hingga 2026.

Lumen, perusahaan raksasa jaringan yang ikut memantau aktivitas botnet, menyatakan para peretas telah memetakan dan membidik instansi pemerintah, sektor pertahanan, serta industri kedirgantaraan selama setahun terakhir. Data intelijen ancaman yang mereka kumpulkan kemudian dibagikan ke FBI.

Mengapa Penyitaan Domain Efektif?

Domain yang disita bukan sekadar alamat situs biasa. Alamat tersebut tertanam langsung di dalam kode botnet dan menjadi jalur komunikasi utama antara perangkat yang diretas dengan server komando. Tanpa domain ini, ribuan perangkat yang sudah terinfeksi—mulai dari komputer rumah sakit hingga kontraktor pertahanan—kehilangan instruksi dari pengendalinya.

Botnet ini bekerja dengan membajak ribuan perangkat internet yang tidak diamankan dengan baik. Perangkat-perangkat itu kemudian dijadikan "prajurit bayaran" untuk memantulkan serangan, membuat sumber asli serangan sulit diidentifikasi.

Apa Dampaknya bagi Keamanan Siber Global?

Penyitaan ini menandai salah satu operasi penutupan botnet berskala besar yang melibatkan aktor negara. Efektivitasnya bergantung pada seberapa cepat operator botnet membangun infrastruktur pengganti. Namun, gangguan ini setidaknya memberi waktu bagi institusi yang menjadi target untuk membersihkan jaringan mereka dari malware yang tertanam.

Bagi pengguna internet pada umumnya, kasus ini menjadi pengingat bahwa perangkat IoT yang tidak diperbarui bisa disalahgunakan menjadi bagian dari senjata siber. Perangkat seperti router, kamera pengawas, dan perangkat pintar lainnya yang masih menggunakan kata sandi bawaan adalah sasaran empuk untuk direkrut menjadi bagian botnet.

Reporter: Zainul Arifin
Sumber: techcrunch.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top