MANADO — Donald Trump meningkatkan retorikanya terhadap Kanada pada Rabu (27/8/2025), menyusul kebuntuan perundingan dagang yang memicu perang tarif berskala besar. Presiden AS itu menegaskan bahwa Kanada memperlakukan hubungan bilateral seolah-olah negaranya merupakan salah satu negara bagian AS.
"Mereka telah memanfaatkan Amerika Serikat selama beberapa dekade," kata Trump kepada komentator politik Glenn Beck, seperti dikutip ANTARA dari Istanbul.
Trump menyoroti defisit perdagangan tahunan yang mencapai 60 miliar dolar AS atau setara Rp 1.063,5 triliun. Angka ini disebutnya sebagai bukti nyata bahwa hubungan dagang selama ini tidak adil bagi Washington.
Ia menegaskan bahwa AS tidak bergantung pada sumber daya Kanada. Meski kehilangan akses terhadap sejumlah barang mungkin "sedikit merepotkan", Trump yakin Washington dapat memperoleh barang-barang tersebut dari negara lain.
"Sudah waktunya untuk mengajari Kanada bahwa mereka tidak bisa lagi melakukan hal ini," tegasnya.
Serangan verbal ini muncul setelah perang dagang AS-Kanada mengalami eskalasi signifikan. Pada 22 Agustus, AS memberlakukan tarif 50 persen terhadap berbagai barang Kanada. Tarif tambahan sebesar 50 persen untuk sektor otomotif dan baja akan mulai berlaku pada 1 Januari 2026.
Kanada merespons dengan mengumumkan tarif balasan berkisar 15 persen hingga 50 persen terhadap impor dari AS senilai 27,6 miliar dolar Kanada atau sekitar Rp 352 triliun. Kebijakan tersebut dijadwalkan mulai berlaku pada 8 September mendatang.
Dalam wawancara tersebut, Trump mengaku sebelumnya telah menawarkan kesepakatan yang cukup baik sebelum perundingan terbaru antara kedua negara mengalami kebuntuan. Namun ia tidak merinci isi tawaran tersebut.
Ketegangan dagang ini berpotensi berdampak pada harga komoditas global, mengingat Kanada merupakan pemasok utama berbagai produk pertanian dan energi ke AS. Eskalasi tarif juga berisiko mengganggu rantai pasok industri otomotif di kawasan Amerika Utara yang selama ini terintegrasi erat.