Pencarian

Krisis Iklim di Sulawesi Utara: 328 Hektare Sawit Puso, Nelayan Sitaro Beli Air Rp 420 Ribu per Bulan

Kamis, 27 Agustus 2026 • 08:44:01 WIB
Krisis Iklim di Sulawesi Utara: 328 Hektare Sawit Puso, Nelayan Sitaro Beli Air Rp 420 Ribu per Bulan
Kekeringan akibat El Niño menyebabkan 328,5 hektare tanaman padi dan jagung di Bolaang Mongondow mengalami puso.

MANADO — Satu kondisi iklim yang sama tidak pernah menghasilkan beban yang sama bagi setiap orang. Tim Zonautara.com yang turun ke lapangan sepanjang Agustus 2026 menemukan fakta bahwa kekeringan dan anomali cuaca telah menekan sendi-sendi ekonomi warga secara berbeda di tiap wilayah, mulai dari petani di Bolaang Mongondow hingga keluarga nelayan di Bitung.

BMKG mencatat suhu maksimum di Sulawesi Utara mencapai 34 derajat Celsius pada 26 Agustus 2026. Anomali suhu muka laut di wilayah Niño 3.4 untuk periode Juni-Juli-Agustus tercatat +2,22, yang dikategorikan sebagai El Niño dengan intensitas sangat kuat.

328,5 Hektare Tanaman Puso di Bolaang Mongondow

Data Dinas Pertanian yang diolah Zonautara.com menunjukkan sedikitnya 328,5 hektare tanaman padi dan jagung mengalami puso akibat kekeringan tahun ini. Di balik angka itu, petani seperti Puti Hati Paropo di Desa Babo terpaksa menanam semangka untuk mempertahankan pendapatan keluarga setelah sawahnya mengering.

Dua Wajah Bencana di Bolaang Mongondow Selatan

Kabupaten ini menghadapi persoalan ganda. Kemarau mengganggu pertanian dan aktivitas melaut, tetapi ketika hujan besar datang, permukiman pesisir kembali dilanda banjir. Catatan DIBI BNPB menunjukkan 28.097 rumah pernah tercatat terendam akibat bencana di kabupaten tersebut.

Nelayan di Ilomata dan Dudepo mengaku harus menjangkau puluhan mil lebih jauh ke laut untuk mencari ikan. Mereka menanggung biaya operasional lebih besar dengan hasil tangkapan yang belum tentu sepadan.

Utang Jadi Pelarian Nelayan Gurem di Bitung

Ketika badai selatan membuat kapal nelayan tertahan di pelabuhan, pendapatan keluarga ikut berhenti. Martini Mundok, istri nelayan di Wangurer, menggambarkan jalan keluar yang tersedia bagi keluarganya dengan kalimat pendek: "Tambah utang. Hanya itu pelarian."

Genangan 60 Sentimeter di Kotamobagu

Di ruang perkotaan padat, hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu singkat berubah menjadi genangan. Di Kelurahan Gogagoman, liputan mencatat genangan dapat mencapai 30 hingga 60 sentimeter, diperparah persoalan drainase dan semakin terbatasnya ruang terbuka hijau.

Air Bersih Jadi Komoditas Mahal di Pulau Siau

Di Kepulauan Sitaro, air menjadi barang yang harus dihitung liter demi liter. Warga membeli air, memikul galon melewati lereng, menggunakan air payau untuk mencuci, bahkan mandi di laut agar persediaan air tawar dapat disimpan untuk memasak dan kebutuhan anak.

Salah satu keluarga yang ditemui tim Zonautara.com mengeluarkan sekitar Rp 420 ribu sebulan untuk membeli air bersih. Angka ini setara dengan pendapatan beberapa hari kerja buruh di pulau tersebut.

Mengapa Lima Daerah Ini Menjadi Jendela Krisis?

Pemilihan lima wilayah bukan berarti daerah lain di Sulawesi Utara aman dari dampak perubahan iklim. Redaksi Zonautara.com mengakui keterbatasan sumber daya untuk meliput seluruh kabupaten dan kota secara bersamaan.

Bolaang Mongondow mewakili wilayah pertanian yang bergantung pada ketersediaan air. Bolaang Mongondow Selatan mempertemukan gunung, sungai, dan Teluk Tomini dalam ruang sempit. Bitung menunjukkan ketergantungan industri perikanan terhadap laut, sementara Kotamobagu menggambarkan risiko di ruang perkotaan. Sitaro memperlihatkan kerapuhan kehidupan di pulau-pulau kecil dengan sumber air tawar sangat terbatas.

Puncak musim kemarau di berbagai Zona Musim Sulawesi Utara diperkirakan jatuh pada Agustus dan September, dengan durasi antara tiga hingga sembilan bulan. BMKG memprediksi fenomena El Niño bertahan hingga awal 2027.

Follow halomanado.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: zonautara.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks