MANADO — Politeknik Negeri Manado (Polimdo) menuntaskan rangkaian penelitian terhadap potensi Hasil Hutan Bukan Kayu di kawasan pesisir Minahasa. Kajian terakhir digelar di Desa Arakan, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan, dengan temuan senyawa aktif berkhasiat obat pada Kayu Bantahan (Heritiera littoralis).
Tim peneliti diketuai Dr Oktavianus Lintong SPi MSi, bersama tiga anggota: Dannie Oroh SPi MSi, Dr Efendy Rasjid, dan Tommy Kontu SPi MSi. Sebelum Arakan, mereka menyambangi Desa Tiwoho, Kecamatan Wori, dan Desa Sarawet, Kecamatan Likupang Timur, keduanya di Kabupaten Minahasa Utara.
Masyarakat Desa Arakan memanfaatkan Kayu Bantahan sebagai obat pengering luka. Tumbuhan itu juga kerap dipakai perempuan yang baru melahirkan.
Kebiasaan turun-temurun itu yang mendorong tim Polimdo menelusuri kandungan ilmiahnya. "Memang banyak potensi mangrove di pesisir Minahasa. Ini menjadi pemicu bagi kami untuk melakukan penelitian sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat," kata Oktavianus, seperti disampaikan bersama Dannie Oroh, Efendy Rasjid, dan Tommy Kontu.
Penelitian menyasar ekosistem mangrove yang selama ini berfungsi sebagai benteng alami pesisir dari abrasi sekaligus habitat biota laut. Kawasan itu dinilai menyimpan potensi HHBK yang melimpah dan bisa memberi nilai tambah bagi warga.
Rangkaian kegiatan di tiga desa mencakup pendampingan dan diskusi kelompok terarah bersama masyarakat setempat. Di Desa Arakan, warga diwakili Ismael Husen, Ketua Kelompok Kayu Bantahan.
Di tiap desa, tim peneliti dan warga menandatangani nota kesepahaman atau MoU. Isinya mengatur seluruh aktivitas pengambilan bahan baku agar keselamatan warga terjaga dan kelestarian mangrove tetap terpelihara.
"Tentunya kami menyambut baik tim peneliti dan sangat berterima kasih karena telah melakukan kegiatan dan memilih desa kami sebagai lokasi kegiatan. Kami siap mengamankan dan menjaga kelestarian mangrove terutama Kayu Bantahan," ujar Ismael Husen.
Bagi Polimdo, hasil kajian di Tiwoho, Sarawet, dan Arakan menjadi dasar lanjutan untuk mendorong pemanfaatan HHBK pesisir secara berkelanjutan. Kesepahaman dengan warga desa menjadi kunci agar riset tidak menggerus mangrove yang jadi benteng pesisir Minahasa.