Pencarian

Peneliti Polimdo Temukan Senyawa Obat pada Kayu Bantahan di Arakan, Warga Diminta Jaga Kelestarian Mangrove

Kamis, 29 Oktober 2026 • 10:16:01 WIB
Peneliti Polimdo Temukan Senyawa Obat pada Kayu Bantahan di Arakan, Warga Diminta Jaga Kelestarian Mangrove
Tim peneliti Polimdo memimpin diskusi kelompok terarah bersama warga Desa Arakan, Minahasa Selatan, mengenai potensi Kayu Bantahan.

MANADO — Politeknik Negeri Manado (Polimdo) menuntaskan rangkaian penelitian terhadap potensi Hasil Hutan Bukan Kayu di kawasan pesisir Minahasa. Kajian terakhir digelar di Desa Arakan, Kecamatan Tatapaan, Kabupaten Minahasa Selatan, dengan temuan senyawa aktif berkhasiat obat pada Kayu Bantahan (Heritiera littoralis).

Tim peneliti diketuai Dr Oktavianus Lintong SPi MSi, bersama tiga anggota: Dannie Oroh SPi MSi, Dr Efendy Rasjid, dan Tommy Kontu SPi MSi. Sebelum Arakan, mereka menyambangi Desa Tiwoho, Kecamatan Wori, dan Desa Sarawet, Kecamatan Likupang Timur, keduanya di Kabupaten Minahasa Utara.

Kayu Bantahan Sudah Dipakai Warga Sejak Lama

Masyarakat Desa Arakan memanfaatkan Kayu Bantahan sebagai obat pengering luka. Tumbuhan itu juga kerap dipakai perempuan yang baru melahirkan.

Kebiasaan turun-temurun itu yang mendorong tim Polimdo menelusuri kandungan ilmiahnya. "Memang banyak potensi mangrove di pesisir Minahasa. Ini menjadi pemicu bagi kami untuk melakukan penelitian sehingga bisa dimanfaatkan oleh masyarakat," kata Oktavianus, seperti disampaikan bersama Dannie Oroh, Efendy Rasjid, dan Tommy Kontu.

Tiga Desa Pesisir Jadi Lokasi Kajian

Penelitian menyasar ekosistem mangrove yang selama ini berfungsi sebagai benteng alami pesisir dari abrasi sekaligus habitat biota laut. Kawasan itu dinilai menyimpan potensi HHBK yang melimpah dan bisa memberi nilai tambah bagi warga.

Rangkaian kegiatan di tiga desa mencakup pendampingan dan diskusi kelompok terarah bersama masyarakat setempat. Di Desa Arakan, warga diwakili Ismael Husen, Ketua Kelompok Kayu Bantahan.

Kesepahaman soal Pengambilan Bahan Baku

Di tiap desa, tim peneliti dan warga menandatangani nota kesepahaman atau MoU. Isinya mengatur seluruh aktivitas pengambilan bahan baku agar keselamatan warga terjaga dan kelestarian mangrove tetap terpelihara.

"Tentunya kami menyambut baik tim peneliti dan sangat berterima kasih karena telah melakukan kegiatan dan memilih desa kami sebagai lokasi kegiatan. Kami siap mengamankan dan menjaga kelestarian mangrove terutama Kayu Bantahan," ujar Ismael Husen.

Bagi Polimdo, hasil kajian di Tiwoho, Sarawet, dan Arakan menjadi dasar lanjutan untuk mendorong pemanfaatan HHBK pesisir secara berkelanjutan. Kesepahaman dengan warga desa menjadi kunci agar riset tidak menggerus mangrove yang jadi benteng pesisir Minahasa.

Follow halomanado.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: gosulut.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks