SULAWESI UTARA — Kemenangan dramatis 3-2 atas Senegal di laga perdana Grup B menjadi titik awal yang menarik. Bukan sekadar tiga poin, kemenangan itu memperlihatkan keberanian Garcia melakukan perubahan besar. Ia menarik keluar Kevin De Bruyne dan Jeremy Doku di saat tim tertinggal, lalu memasukkan pemain muda seperti Nicolas Raskin dan Dodi Lukebakio.
Garcia Tiru Resep Sukses Piala Dunia 1986
Keputusan berani Garcia mengingatkan pada momen bersejarah Belgia di Piala Dunia 1986. Kala itu, pelatih Guy Thys mencoret lima pemain senior setelah kekalahan dari Meksiko. Hasilnya, Belgia yang diperkuat pemain muda seperti Enzo Scifo (20 tahun) dan Stephane Demol (20 tahun) justru tampil lepas dan melaju hingga semifinal.
"Kemenangan atas Uni Soviet di babak 16 besar mengubah segalanya. Bukan soal seberapa jauh langkah mereka, tapi bagaimana menciptakan sesuatu yang baru," tulis jurnalis Jonathan Wilson dalam analisisnya. Belgia butuh momen serupa, dan laga melawan AS pada Senin (nanti) bisa menjadi titik balik.
Warisan Generasi Emas yang Belum Selesai
Bekuk Brasil di perempat final Rusia 2018 adalah puncak pencapaian. Tapi kekalahan 0-1 dari Prancis di semifinal meninggalkan luka yang tak kunjung sembuh. Courtois, Lukaku, De Bruyne, Witsel, dan Meunier masih bertahan, namun aura mereka sudah tak sama seperti enam tahun lalu.
Skuad 2026 bukan sekadar versi tua dari generasi emas 2018. Pemain seperti Leandro Trossard, Youri Tielemans, dan Jeremy Doku memang tidak sekilat Hazard atau Kompany, tapi tetap pemain berkualitas. Belgia, negara dengan populasi di bawah 12 juta jiwa, tak bisa terus-menerus melahirkan calon juara dunia.
Diego Moreira, Winger Muda yang Bisa Jadi Pembeda
Salah satu nama yang mulai menonjol adalah Diego Moreira. Pemain sayap 21 tahun milik Strasbourg itu masuk sebagai pemain pengganti melawan Senegal dan langsung mengubah permainan. Dalam 27 menit, ia melepaskan lima umpan silang—lebih banyak dari total umpan Doku sepanjang pertandingan.
Moreira punya darah sepak bola yang kental. Ayahnya, Almami Moreira, adalah mantan gelandang Standard Liege yang pernah membela Portugal di level junior. Kakeknya, Helmut Graf, adalah penyerang Jerman yang bermain di final Piala Winners 1982. Kini, Moreira menjadi bagian dari masa depan Belgia bersama Joaquin Seys, Nathan Ndoye, dan Matias Fernandez-Pardo.
Lawan AS: Uji Nyali untuk Generasi Baru Belgia
Melawan Amerika Serikat, Belgia tidak hanya bertarung untuk lolos ke babak selanjutnya. Ini tentang melepaskan diri dari bayang-bayang masa lalu. Kemenangan bisa membuka pintu menuju masa depan yang lebih bebas, tanpa beban ekspektasi yang selama ini menghimpit.
Garcia kemungkinan besar tetap mempertahankan De Bruyne sebagai starter. Tapi performa Moreira di laga sebelumnya memberinya opsi segar di bangku cadangan. Jika Doku kembali mandek, tak ada alasan bagi Garcia untuk ragu menariknya keluar dan memberi kepercayaan pada pemain mudanya.