Pencarian

84 Patua BI di Sulut Diberdayakan untuk Dongkrak Produksi Cabai dan Bawang Merah, Tekan Inflasi Daerah

Senin, 03 Agustus 2026 • 08:45:31 WIB
84 Patua BI di Sulut Diberdayakan untuk Dongkrak Produksi Cabai dan Bawang Merah, Tekan Inflasi Daerah
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Sulawesi Utara, Joko Supratikto, memantau program pemberdayaan 84 Petani Unggulan di Manado, Minggu.

MANADO — Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Utara (Sulut) membentuk 84 Petani Unggulan (Patua) yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di provinsi tersebut. Mereka menjadi garda terdepan untuk mendongkrak produksi komoditas hortikultura yang selama ini menjadi penyumbang inflasi, terutama cabai dan bawang merah.

Kepala BI Perwakilan Sulut Joko Supratikto menjelaskan, inisiatif ini merupakan intervensi nyata di sisi hulu. Tidak hanya memberikan pelatihan teknis, program ini juga mencakup pendampingan lapangan hingga pembukaan akses pasar bagi para petani binaan.

Fokus pada Komoditas Barito dan Kerangka 4K

Komoditas yang menjadi perhatian utama masuk dalam kelompok barito, yakni bawang, rica atau cabai, dan tomat. Komoditas ini kerap memicu gejolak harga saat pasokan terganggu. Melalui Patua, BI memastikan praktik pengelolaan pertanian berjalan dari hulu ke hilir, mulai dari pengelolaan lahan, pemupukan, hingga pengendalian hama.

“Bank Indonesia turut berpartisipasi melalui program pelatihan untuk membentuk Patua untuk mendukung peningkatan produksi di sisi hulu,” kata Joko Supratikto di Manado, Minggu.

Inflasi Sulut Tercatat 4,48 Persen Hingga Juni 2026

Program ini menjadi penting mengingat inflasi tahun berjalan (year to date) Sulut hingga Juni 2026 tercatat sebesar 4,48 persen. Angka ini didorong oleh inflasi bulanan Juni 2026 yang mencapai 2,12 persen dan inflasi tahunan (year on year) sebesar 3,83 persen.

Untuk menekan laju inflasi, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulut bersama kabupaten dan kota terus memperkuat pengendalian melalui kerangka 4K. Kerangka tersebut meliputi keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, kelancaran distribusi, dan komunikasi efektif.

Strategi Jangka Pendek dan Jangka Panjang TPID

Dalam jangka pendek, TPID menggencarkan Gerakan Pangan Murah dan Operasi Pasar untuk menjaga daya beli masyarakat. Langkah ini diambil untuk memastikan harga kebutuhan pokok tetap terjangkau di pasar.

Sementara itu, untuk solusi jangka menengah-panjang, pemerintah daerah mengandalkan peningkatan produktivitas komoditas penyumbang inflasi. Selain itu, Kerjasama Antar Daerah (KAD) juga diperkuat untuk menstabilkan pasokan antarwilayah, sehingga ketergantungan pada satu daerah pemasok dapat dikurangi.

Joko menambahkan, pemberdayaan petani melalui Patua diharapkan mampu menciptakan kemandirian usaha. Dengan produktivitas yang meningkat, ketahanan pangan daerah ikut menguat dan tekanan inflasi dari sisi harga pangan dapat diredam secara berkelanjutan.

Follow halomanado.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: manado.antaranews.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks