SULAWESI UTARA — Kekalahan Bigetron by Vitality dan ONIC Esports di ajang MSC 2026 memicu perdebatan panjang soal arah permainan tim Indonesia. Grand final yang mempertemukan Yangon Galacticos melawan Team Spirit menjadi bukti bahwa peta kekuatan Mobile Legends: Bang Bang (MLBB) dunia mulai berubah, dan Indonesia tidak lagi diunggulkan.
Di tengah diskusi tersebut, Head Coach FUT Esports asal Indonesia, Tezet, buka suara. Dalam wawancara eksklusif di Astana, Kazakhstan, ia menyebut masalah utama bukan terletak pada skill individu pemain, melainkan hilangnya jati diri bermain yang selama ini menjadi senjata pamungkas tim-tim MPL.
Alter Ego Jadi Satu-satunya Tim yang Masih Agresif
Tezet mengamati perubahan gaya bermain yang cukup signifikan dari tim-tim Indonesia di pentas internasional. Menurutnya, sebagian besar tim kini lebih memilih pendekatan aman dan defensif untuk mengurangi risiko. Padahal, agresivitas adalah kekuatan alami yang membuat Indonesia ditakuti region lain.
"Tim Indonesia bukan ketinggalan, menurut saya hanya jati dirinya mulai hilang. Kita dikenal dengan mekanik agresif yang perang terus. Sekarang kalau menurut saya Alter Ego saya yang main agresif. Mereka misalnya habis lord bisa nabrak lagi karena punya power dan dihitung juga," ujar Tezet.
Alter Ego disebutnya menjadi salah satu dari sedikit tim yang masih konsisten mempertahankan karakter permainan khas Indonesia. Keberanian untuk langsung menekan lawan setelah mengamankan objektif seperti Lord dinilai sebagai identitas yang selama ini membuat tim MPL disegani di turnamen global.
Risiko Gaya Main Nabrak dan Pelajaran dari Filipina
Tezet tidak menampik bahwa gaya bermain agresif memiliki konsekuensi besar. Keputusan untuk terus menyerang kerap berujung petaka jika perhitungan meleset, dan hal ini sudah beberapa kali dialami tim Indonesia di ajang internasional.
"Sekarang tim-tim Indonesia mainnya lebih defensif, dan memang lebih safety. Cuma menurut saya jati diri Indonesia adalah gameplay nabraknya. Kita tahu power kita nabrak, walau faktanya sering kepleset juga gara-gara itu," jelasnya.
Meski begitu, Tezet menilai pendekatan yang diambil tim Indonesia saat ini—yang disebutnya mirip dengan gaya bermain Filipina—bukanlah sebuah kesalahan. Ia justru melihat ada sisi positif dari adaptasi tersebut, asalkan tidak menghilangkan kekuatan utama para pemain.
"Tapi kalau itu bisa diasah, menurut saya akan jadi senjata pamungkas. Sekarang gameplay tim Indonesia mirip seperti gameplay PH dan itu tak ada salahnya juga. Semua hanya pandangan pribadi saya," tambah Tezet.
Kunci Kembali ke Puncak: Padukan Agresivitas dengan Disiplin
Menurut Tezet, Indonesia memiliki modal besar berupa mekanik individu yang mumpuni dan keberanian bermain agresif. Kombinasi tersebut menjadi pembeda utama dibandingkan region lain seperti Filipina atau bahkan Eropa yang kini berkembang pesat.
Ia meyakini jika agresivitas tersebut bisa diasah dengan pengambilan keputusan yang lebih matang, ditambah disiplin dan adaptasi META yang baik, tim-tim MPL Indonesia berpeluang besar kembali menjadi langganan juara. Ekspektasi tinggi publik Tanah Air terhadap performa timnas di turnamen berikutnya pun bisa kembali terpenuhi.
Pernyataan Tezet ini hadir di tengah pembuktiannya sebagai pelatih asal Indonesia yang sukses membawa FUT Esports asal Turki bersaing di Games of The Future (GOTF) 2026. Keberhasilannya di kancah Eropa sekaligus memperkuat argumen bahwa kualitas pelatih dan pemain Indonesia tidak perlu diragukan lagi.