Lebih dari 700 calon siswa membanjiri pendaftaran SMA Negeri 2 Kotamobagu pada 2026, namun kuota yang tersedia hanya 396 kursi. Di tengah tingginya animo masyarakat itu, sekolah mencatatkan deretan prestasi membanggakan sepanjang tahun ini, mulai dari Paskibraka tingkat provinsi hingga Turnamen Soeratin Cup U-17 di Surabaya. Kepala sekolah menyebut dukungan orang tua menjadi salah satu faktor kunci di balik capaian para siswa tersebut.
KOTAMOBAGU — Bel sekolah memang telah berbunyi, tetapi tidak semua siswa SMA Negeri 2 Kotamobagu bergegas pulang ke rumah. Sebagian dari mereka justru berganti pakaian, mengambil perlengkapan latihan, dan kembali beraktivitas di lingkungan sekolah.
Ada yang menuju lapangan untuk berlatih sepak bola atau futsal. Ada yang masuk ke ruang latihan untuk mengasah kemampuan seni dan bela diri. Ada pula yang masih betah di perpustakaan atau ruang kelas untuk memperdalam materi pelajaran.
Waktu tambahan di luar jam pelajaran itu tidak dianggap sia-sia oleh para orang tua. Justru sebaliknya, momen tersebut dinilai sebagai bagian penting dari proses pendidikan anak.
Prestasi yang Lahir dari Latihan Berulang
Sepanjang 2026, nama SMA Negeri 2 Kotamobagu cukup sering muncul di berbagai ajang perlombaan. Sembilan siswa berhasil menjadi Paskibraka tingkat Kota Kotamobagu, dan satu di antaranya dipercaya mewakili Sulawesi Utara.
Di bidang akademik, delapan siswa menembus Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Provinsi Sulawesi Utara. Mereka berkompetisi dalam bidang Astronomi, Biologi, Ekonomi, Geografi, Informatika, Kebumian, Matematika, dan Kimia.
Kabar baik juga datang dari cabang olahraga. Dua siswa dipercaya mewakili Sulawesi Utara dalam Turnamen Sepak Bola Nasional Soeratin Cup U-17 2026 di Surabaya, Jawa Timur. Prestasi lain turut diraih dari cabang karate, pencak silat, hingga FLS3N.
Peran Orang Tua di Balik Layar
Kepala SMA Negeri 2 Kotamobagu, I Ketut Gunawan Adhywisna, menegaskan bahwa capaian tersebut tidak lepas dari peran keluarga di rumah.
“Tentu prestasi yang diraih siswa-siswi SMA Negeri 2 Kotamobagu tidak lepas dari dukungan para orang tua siswa,” kata Gunawan.
Dukungan itu bisa berwujud sederhana. Mengantar anak latihan, menunggu hingga kegiatan selesai, membelikan perlengkapan yang dibutuhkan, atau memberi semangat setelah anak kalah dalam pertandingan. Kalimat penyemangat seperti “coba lagi” terkadang menjadi modal besar bagi anak untuk bangkit dari kegagalan.
Ketua Komite SMA Negeri 2 Kotamobagu, I Wayan Mudiyasa, menilai keterlibatan orang tua merupakan bagian penting dalam pengembangan pendidikan anak. Menurutnya, sekolah dan keluarga harus berjalan dalam arah yang sama.
Ekstrakurikuler, Investasi yang Tidak Selalu Berwujud Piala
Ada nilai yang sering luput dari pandangan ketika orang melihat sebuah prestasi. Medali dan piala memang mudah terlihat, tetapi proses panjang di belakangnya kerap tidak tampak.
Padahal, nilai terbesar dari kegiatan ekstrakurikuler tidak selalu berupa trofi. Seorang anak yang awalnya takut tampil di depan umum bisa tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri. Anak yang sulit bekerja sama bisa belajar memahami orang lain. Anak yang mudah menyerah bisa belajar bertahan.
Pengalaman yang dibangun sejak masa sekolah inilah yang kemudian menjadi bekal saat anak menghadapi dunia yang lebih luas setelah lulus nanti.
Dukungan Krusial di Tengah Keterbatasan
Dukungan terhadap kegiatan ekstrakurikuler menjadi semakin penting di tengah keterbatasan tenaga pengajar yang masih dihadapi SMA Negeri 2 Kotamobagu. Sekolah harus memaksimalkan sumber daya yang ada.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan dan Humas, Alin Tunggali, menjadi bagian dari upaya sekolah dalam mendorong siswa mengembangkan kemampuan di luar pembelajaran reguler. Kehadiran komite dan orang tua menjadi bagian dari ekosistem yang membantu siswa tetap mendapatkan ruang untuk berkembang.
Tingginya minat masyarakat terhadap sekolah ini menjadi bukti kepercayaan publik. Lebih dari 700 calon siswa mendaftar pada penerimaan siswa baru 2026, sementara kuota yang tersedia hanya 396 siswa.
Angka itu menunjukkan ada harapan besar yang dititipkan orang tua kepada sekolah. Harapan agar anak mereka tidak hanya menjadi pintar secara akademik, tetapi juga menemukan kemampuan, keberanian, dan karakter yang akan mereka bawa setelah meninggalkan bangku sekolah.