SULAWESI UTARA — Indramayu kembali membuktikan posisinya sebagai lumbung pangan nasional. Di tengah gencarnya pembangunan industri, Bupati Lucky Hakim justru memastikan sektor pertanian tidak ditinggalkan. Hasil uji coba program pertanian modern yang digagasnya menunjukkan angka produktivitas yang signifikan, jauh di atas target awal.
Intensifikasi Jadi Kunci Saat Lahan Sawah Tak Bisa Bertambah
Langkah pertama yang dilakukan Lucky adalah mengamankan lahan pertanian yang ada. Pemerintah Kabupaten Indramayu telah menetapkan sekitar 92.888 hektare sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Angka ini dipisahkan dari kawasan industri yang disiapkan seluas 14.110 hektare.
"Tujuannya untuk intensifikasi peningkatan tonase, karena hamparan sawah tidak bisa kita tambah, justru yang ada berkurang. Indramayu sudah punya LP2B sekitar 92 ribu hektare yang tidak bisa diutak-atik," tegasnya.
Alih-alih memperluas lahan, Lucky memilih meningkatkan produktivitas. Program PM-AAS pun diuji coba di hamparan sawah seluas 100 hektare dengan menggabungkan berbagai teknologi modern.
Drone Hingga Combine Harvester Dikerahkan di Plosokerep
Program yang berjalan sejak Mei 2026 ini melibatkan sembilan kelompok tani, satu brigade pangan, dan 93 petani. Teknologi yang digunakan mencakup drone pertanian untuk pemupukan, pompa dan irigasi perpompaan, mekanisasi pertanian, hingga combine harvester untuk pemanenan.
Lucky turun langsung memantau penerapan sistem ini sejak tahap awal penanaman. Menurutnya, dukungan teknologi modern menjadi kunci untuk memperkuat ketahanan pangan Indonesia.
"Penerapan PM-AAS dan dukungan teknologi modern seperti drone pertanian, berharap produktivitas padi di Indramayu sebagai lumbung pangan terus meningkat, sekaligus memperkuat ketahanan pangan Indonesia," jelas Lucky.
Hasil Panen Perdana Jauh Melampaui Target
Panen perdana dilakukan pada 26 Agustus 2026. Lucky kembali mendatangi lokasi untuk menyaksikan langsung hasil kerja para petani. Yang menarik, pengukuran produktivitas tidak dilakukan oleh pihak internal, melainkan oleh BPS Kabupaten Indramayu melalui lima titik ubinan.
Hasilnya mengejutkan banyak pihak. Produktivitas rata-rata mencapai 10,45 ton per hektare, sementara titik tertinggi menyentuh 12,35 ton per hektare. Angka ini membuktikan bahwa intensifikasi dengan teknologi modern bisa menjadi solusi ketika lahan pertanian semakin terbatas.
Keberhasilan uji coba ini membuka peluang perluasan program PM-AAS ke hamparan sawah lain di Indramayu. Jika konsisten diterapkan, bukan tidak mungkin Indramayu akan semakin kokoh sebagai salah satu penyangga pangan nasional.