Pencarian

9 Aktor Senior Indonesia yang Wariskan Film Ikonik Lintas Generasi

Senin, 02 November 2026 • 17:48:02 WIB
9 Aktor Senior Indonesia yang Wariskan Film Ikonik Lintas Generasi
Aktor senior Benyamin Sueb dikenal sebagai ikon Betawi melalui film Si Doel Anak Betawi dan Benyamin Biang Kerok.

SULAWESI UTARA — Sembilan aktor senior Indonesia meninggalkan warisan film ikonik yang masih dikenang penonton lintas generasi, dari era 1970-an hingga 2000-an. Karya mereka tersebar di berbagai genre, mulai drama, komedi, hingga laga, dan sejumlah nama tercatat meraih Piala Citra atas penampilan terbaiknya. Dedikasi mereka turut membentuk sejarah sinema Tanah Air.

Benyamin Sueb, Didi Petet, hingga Deddy Mizwar termasuk nama yang paling sering disebut ketika publik membicarakan aktor senior dengan karya yang membekas. Perjalanan karier mereka menunjukkan konsistensi panjang, bukan sekadar popularitas sesaat.

Kemampuan akting para aktor ini menghidupkan karakter yang melekat di ingatan penonton. Sejumlah film yang mereka bintangi masih diputar ulang dan menjadi rujukan bagi generasi sineas berikutnya.

Benyamin Sueb dan Ikon Betawi di Layar Lebar

Benyamin Sueb dikenal sebagai aktor, komedian, penyanyi, sekaligus seniman Betawi yang berpengaruh besar. Ia membintangi Si Doel Anak Betawi, Benyamin Biang Kerok, dan Intan Berduri.

Humor dan logat Betawi yang khas membuat Benyamin menjadi salah satu ikon perfilman Indonesia. Di luar akting, ia turut melestarikan kesenian Betawi, termasuk Gambang Kromong.

Didi Petet dan Dua Wajah Karakternya

Didi Petet dikenal luas lewat karakter Emon dalam serial film Catatan Si Boy. Ia juga menghidupkan tokoh Kabayan dalam Si Kabayan Saba Kota dan Si Kabayan Mencari Jodoh.

Kemampuannya memainkan peran komedi maupun drama berbuah Piala Citra untuk Pemeran Pembantu Pria Terbaik melalui film Cinta Anak Zaman pada 1988.

Deddy Mizwar: Nagabonar dan Kritik Sosial

Deddy Mizwar berkarya sejak era 1970-an sebagai aktor, sutradara, dan produser. Namanya melambung setelah memerankan tokoh Nagabonar dalam Naga Bonar (1987).

Ia juga terlibat dalam Kiamat Sudah Dekat, Nagabonar Jadi 2, dan Alangkah Lucunya (Negeri Ini). Karya-karyanya memadukan komedi, kritik sosial, dan pesan kehidupan.

Ray Sahetapy hingga The Raid

Ray Sahetapy dikenal dengan akting yang kuat dan ekspresif. Ia membintangi Opera Jakarta, Secangkir Kopi Pahit, dan The Raid.

Dalam The Raid, Ray memerankan Tama Riyadi, gembong kriminal yang menjadi pusat konflik cerita. Peran itu turut memperkenalkan kemampuannya kepada penonton internasional.

Barry Prima dan Era Laga 1980-an

Barry Prima mencuri perhatian lewat film Primitif (1980) sebelum populer di genre aksi dan bela diri. Latar belakang taekwondonya mendukung penampilan di Jaka Sembung dan Membakar Lingkaran Api.

Sosoknya identik dengan film laga yang mendominasi perfilman Indonesia pada era 1980-an.

Wawan Wanisar dan Peran Lettu Pierre Tendean

Wawan Wanisar melekat lewat perannya sebagai Lettu Pierre Tendean dalam Pengkhianatan G30S/PKI (1984). Ia juga membintangi Matahari-Matahari, Naga Bonar, dan The Fabulous Udin.

Kemampuannya memerankan tokoh dengan karakter berbeda menjadikannya aktor pendukung yang diperhitungkan pada masanya.

Deddy Sutomo dan Piala Citra 2015

Deddy Sutomo membintangi banyak film sejak era 1970-an, termasuk sebagai Pandji Tengkorak. Ia tampil dalam Doa yang Mengancam, Tanda Tanya, dan Mencari Hilal.

Aktingnya sebagai Mahmud dalam Mencari Hilal membawa Piala Citra Pemeran Utama Pria Terbaik di Festival Film Indonesia 2015.

Roy Marten dan Slamet Rahardjo

Roy Marten populer sejak era 1970-an lewat Bobby (1974), lalu Kampus Biru (1976) dan Badai Pasti Berlalu (1977). Konsistensinya berkarya puluhan tahun membuat namanya lekat dengan perfilman nasional.

Slamet Rahardjo Djarot meniti karier lewat Teater Populer sebelum terjun ke layar lebar pada awal 1970-an. Filmnya antara lain Cinta Pertama, Ranjang Pengantin, Badai Pasti Berlalu, dan November 1828.

Deretan nama itu menunjukkan bahwa warisan film ikonik lahir dari proses panjang, bukan dari satu peran besar semata. Bagi penonton muda yang ingin menelusuri sejarah sinema Indonesia, karya-karya mereka jadi titik awal yang layak disambangi.

Follow halomanado.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: liputan6.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks