MANADO — Insiden keamanan yang melibatkan exchanger kripto global pada akhir Oktober 2026 membawa dampak langsung ke pasar aset digital. Bitcoin sempat turun ke level terendah dalam enam minggu di kisaran US$77.646, sementara Ethereum menyentuh titik terendah dua bulan di sekitar US$2.238.
Laporan Reuters yang dipublikasikan melalui ThePrint pada 30 Oktober 2026 menyebutkan aset kripto yang dicuri dalam insiden tersebut mencapai sekitar US$6,3 miliar. Sekitar US$3 miliar di antaranya berhasil dibekukan lewat koordinasi dengan penerbit stablecoin dan mitra industri blockchain.
Berapa Besar Koreksi Harga Bitcoin dan Ethereum?
Setelah insiden terungkap, Bitcoin terkoreksi sekitar 3 persen ke US$76.469. Ethereum melemah lebih dari 3 persen ke US$2.185 pada periode yang sama.
Data Coinmarketcap pada perdagangan Rabu, 4 November 2026 siang menempatkan Bitcoin di kisaran US$76.615. Posisi itu melemah 0,38 persen dalam 24 jam terakhir dan 5,31 persen sepanjang sepekan.
Ethereum berada di kisaran US$2.254. Aset ini turun tipis 0,02 persen dalam sehari dan 4,23 persen dalam sepekan terakhir.
Penarikan Dana Pelanggan Capai US$3,64 Miliar
Perubahan perilaku investor terlihat dari arus dana keluar. Mengutip Reuters pada 2 November 2026, penarikan dana pelanggan dari platform terdampak mencapai US$3,64 miliar atau sekitar 2,1 persen dari total asetnya.
Arus penarikan mulai stabil dan belum menunjukkan kepanikan luas. Selain sentimen keamanan, pergerakan harga juga dipengaruhi kondisi makroekonomi global, kebijakan suku bunga, likuiditas, dan aktivitas perdagangan.
Di pasar derivatif, lonjakan volatilitas berpotensi memicu likuidasi posisi dengan leverage. Kondisi itu bisa memperbesar tekanan harga dalam waktu singkat.
Bittime: Insiden Satu Platform Tak Cerminkan Seluruh Industri
Direktur Operasional Bittime, Ryan Lymn, menilai insiden keamanan pada platform perdagangan global berpotensi memengaruhi sentimen investor dalam jangka pendek. Menurut dia, kekhawatiran itu terutama menyangkut kepercayaan terhadap keamanan platform dan perlindungan aset pengguna.
"Insiden keamanan pada platform perdagangan aset kripto di luar negeri berpotensi memengaruhi sentimen investor dalam jangka pendek, terutama terkait kepercayaan terhadap keamanan platform dan perlindungan aset pengguna. Namun, setiap platform memiliki infrastruktur, sistem keamanan, dan mekanisme pengelolaan risiko yang berbeda. Oleh karena itu, suatu insiden tidak serta-merta mencerminkan kondisi keamanan seluruh industri kripto," ujar Ryan.
Bittime merupakan platform Pedagang Aset Keuangan Digital (PAKD) dengan ekosistem 3-in-1 yang mencakup Spot, Staking, dan Futures. Platform ini terdaftar dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Produk Futures Bittime memberi fleksibilitas bagi pengguna yang memenuhi persyaratan untuk mengambil posisi Long maupun Short. Pilihan itu memungkinkan pengguna berpartisipasi saat pasar bergerak naik atau turun, dengan tetap memperhitungkan risiko volatilitas.
Mengapa Investor Diminta Tidak Panik?
Ryan menilai keputusan investasi yang hanya didasarkan pada kepanikan akibat pemberitaan atau perubahan harga jangka pendek perlu dihindari. Menurut dia, pasar kripto masih dipengaruhi berbagai faktor yang dapat meningkatkan volatilitas.
"Pasar kripto saat ini masih dipengaruhi berbagai faktor yang dapat meningkatkan volatilitas. Pergerakan Bitcoin dan aset kripto lainnya tidak hanya ditentukan oleh satu peristiwa, tetapi juga kondisi ekonomi global, kebijakan moneter, likuiditas pasar, dan aktivitas perdagangan. Karena itu, investor perlu tetap tenang, mencermati perkembangan pasar, serta menerapkan manajemen risiko secara disiplin," jelas Ryan.
Memasuki akhir 2026, prospek pasar kripto masih bergantung pada perkembangan ekonomi global, arah kebijakan moneter, regulasi, dan tingkat adopsi aset digital. Data ekonomi Amerika Serikat serta ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga Federal Reserve menjadi faktor yang dapat memengaruhi selera risiko investor.