SULAWESI UTARA — Anak usia 3-5 tahun butuh minimal 3 jam aktivitas fisik sehari, tapi waktu di depan layar sering menggerus kesempatan itu. Kenali panduan olahraga sesuai tahap usia anak dan tanda kapan perlu konsultasi ke dokter spesialis.
Dokter spesialis ortopedi anak, dr. Patar Parmonangan Oppusunggu, Sp.OT, Subsp.A(K) dari Mayapada Hospital Jakarta Selatan, menegaskan aktivitas fisik anak tidak harus berupa olahraga kompetitif. Fondasi gerak yang baik justru dibangun lewat kegiatan eksploratif yang menyenangkan.
Sayangnya, kesibukan harian dan kebiasaan bermain gawai membuat anak makin jarang bergerak. Padahal, gerak aktif berperan besar dalam perkembangan tulang, otot, koordinasi, hingga kemampuan sosial dan emosional anak.
Mengapa Aktivitas Fisik Penting untuk Anak?
Gerakan seperti berlari, melompat, memanjat, melempar, menangkap, dan menjaga keseimbangan melatih motorik kasar anak. Aktivitas ini juga memperkuat tulang dan otot serta meningkatkan koordinasi tubuh secara bertahap.
"Aktivitas seperti berlari, melompat, memanjat, melempar, menangkap, dan menjaga keseimbangan membantu mengembangkan kemampuan motorik, memperkuat tulang dan otot, serta meningkatkan koordinasi tubuh," kata dr. Patar.
Manfaatnya tidak berhenti di fisik. Olahraga membentuk disiplin, menumbuhkan kepercayaan diri, melatih kerja sama, dan membangun ketahanan mental anak.
Olahraga Anak Usia 3-5 Tahun: Fokus pada Gerak Dasar
Anak prasekolah belum membutuhkan olahraga terstruktur. Cukup beri ruang untuk berlari, melompat, bermain bola, bersepeda, atau berenang.
Pada tahap ini, yang terpenting adalah anak mengenal berbagai gerakan dasar dengan cara yang menyenangkan. Jangan paksa anak mengikuti aturan permainan yang rumit.
Olahraga Anak Usia 6-9 Tahun: Mulai Terstruktur
Memasuki usia sekolah dasar, anak mulai bisa diperkenalkan pada olahraga yang lebih teratur. Pilihannya bisa senam, sepak bola, basket, bulu tangkis, renang, atau bela diri.
Biarkan anak mencoba beberapa jenis olahraga dulu. Tujuannya bukan mencetak atlet, melainkan menemukan aktivitas yang benar-benar disukainya.
Olahraga Anak Usia 10 Tahun ke Atas: Teknik Lebih Spesifik
Di usia ini, anak bisa mempelajari teknik olahraga yang lebih spesifik dengan intensitas latihan yang dinaikkan bertahap. Variasi aktivitas tetap diperlukan karena lempeng pertumbuhan (growth plate) masih aktif dan lebih rentan cedera.
Pastikan pemanasan dan pendinginan tidak dilewatkan. Perlengkapan pelindung seperti helm, pelindung lutut, atau sepatu yang tepat juga wajib disesuaikan dengan jenis olahraganya.
Kesiapan Anak Tidak Hanya Soal Fisik
Dokter spesialis anak, dr. Burhan Sp.A, Subsp.Neuro (K) dari Mayapada Hospital Bandung, mengingatkan kesiapan berolahraga tidak hanya bergantung pada kemampuan fisik. Tahap tumbuh kembang dan kemampuan neurobehavioral juga perlu dipertimbangkan.
"Kemampuan motorik, kognitif, bahasa, atensi, serta kemampuan regulasi emosi dan perilaku saling berkaitan dalam proses tumbuh kembang anak. Karena itu, pengembangan potensi olahraga sebaiknya mempertimbangkan kesiapan anak secara keseluruhan," papar dr. Burhan.
Artinya, dua anak berusia sama belum tentu siap pada jenis latihan yang sama. Kenali karakter anak sebelum menentukan program olahraga.
Kapan Perlu Konsultasi ke Dokter?
Segera bawa anak ke dokter spesialis ortopedi anak jika muncul nyeri sendi yang menetap, bengkak setelah aktivitas, atau keluhan yang tidak membaik dalam beberapa hari. Anak yang sering jatuh atau tampak kesulitan mengikuti gerakan seusianya juga perlu dievaluasi.
Untuk mendukung aktivitas fisik yang aman, Mayapada Hospital memiliki Sports Injury Treatment & Performance Center (SITPEC) yang terintegrasi dengan Orthopedic Center. Layanan ini didukung dokter spesialis ortopedi subspesialis anak dan tim multidisiplin untuk menangani cedera olahraga pada anak maupun atlet muda.
Di Mayapada Hospital Bandung, Pediatric Center menyediakan rawat inap anak dalam satu lantai, Pediatric Emergency 24/7, serta 11 dokter spesialis dan subspesialis anak. Tersedia juga Klinik Tumbuh Kembang & Neurobehavior dengan layanan terapi okupasi, terapi wicara, terapi sensori integrasi, fisioterapi anak, hingga tes minat dan bakat.
Sementara di Jakarta Selatan, Pediatric Emergency 24/7 didukung dokter spesialis anak yang standby on-site. Informasi layanan bisa diakses lewat Call Center 150770, WhatsApp 0817-17-150770, atau Emergency Call 150990.
Kuncinya sederhana: sesuaikan jenis dan intensitas olahraga dengan usia serta kesiapan anak. Dengan pendampingan yang tepat, kebiasaan aktif bergerak akan terbawa hingga dewasa.