MANADO — Politeknik Negeri Manado (Polimdo) menyiapkan sejumlah program vokasi untuk merespons gejolak pasar yang membebani kelompok rentan di Sulawesi Utara. Langkah institusi pendidikan itu merujuk pada data Pascasensus Ekonomi 2026 yang memetakan kondisi riil UMKM, daya beli, dan tingkat kesejahteraan warga.
Direktur Polimdo Mareyke Alelo, MBA menilai gejolak pasar menuntut resiliensi ekonomi di tingkat akar rumput. Pembangunannya, kata dia, harus terukur dan berkelanjutan.
"Data Pascasensus Ekonomi 2026 memberikan peta navigasi yang sangat jelas tentang kondisi riil UMKM, daya beli, dan tingkat kesejahteraan di Sulawesi Utara. Sebagai kampus vokasi, Polimdo meresponsnya secara konkret melalui inovasi teknologi dan pemberdayaan masyarakat yang berlandaskan pada pilar-pilar SDGs. Kita ingin menciptakan masyarakat yang tahan banting terhadap gejolak pasar tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan untuk jangka panjang," tegas Mareyke.
Transisi Energi Terbarukan Tekan Biaya Operasional UMKM
Fluktuasi harga energi menjadi salah satu dampak terbesar volatilitas pasar yang membebani pelaku usaha kecil. Polimdo menjawabnya dengan memberdayakan UMKM di Kelurahan Malalayang melalui rancangan rakit wisata bertenaga surya dan angin.
Inovasi itu disebut membebaskan nelayan dari ketergantungan bahan bakar fosil sehingga margin pendapatan ekonomi mereka meningkat. Polimdo juga menyediakan fasilitas recycling centre untuk mendaur ulang sampah plastik menjadi paving blok dan bahan bakar.
Kampus vokasi tersebut melengkapi langkah itu dengan instalasi energi terbarukan mandiri berupa hidro, angin, dan surya di lingkungan kampus. Program ini menyasar SDG 13 tentang aksi iklim dan SDG 1 tentang pengentasan kemiskinan.
Kemandirian Finansial Desa Berbasis Potensi Lokal
Data sensus ekonomi membantu Polimdo mengidentifikasi kantong-kantong potensi desa untuk pengentasan kemiskinan. Bersama badan dunia ILO, Polimdo merevitalisasi ekosistem ekonomi Desa Budo yang kini meraih Anugerah Desa Wisata Indonesia dan mandiri secara finansial.
"Model penguatan mata rantai ekonomi ini direplikasi di desa penyangga seperti Darunu dan Bahoi," ujar Mareyke.
Untuk menekan instabilitas harga pangan, Polimdo memberikan sentuhan teknologi pakan buatan kepada pembudidaya ikan air tawar. Teknologi itu menjaga stabilitas harga pokok produksi di tengah ketidakpastian pasar.
Pelatihan Pekerja Migran hingga Sertifikasi Diving Skala Internasional
Polimdo menyasar pendidikan bermutu dan pekerjaan layak sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi inklusif pascasensus. Kolaborasi dengan BP3MI dilakukan untuk melatih calon pekerja migran agar berdaya saing tinggi saat bekerja di luar negeri.
Sinergi dengan Bank Indonesia dan PADI menghadirkan pelatihan serta sertifikasi diving dan konservasi laut berskala internasional bagi masyarakat pesisir. Pendidikan spesifik itu disebut langsung menaikkan nilai jual kompetensi warga untuk menavigasi volatilitas pasar kerja.
Mareyke mengapresiasi IWO Sulut yang mengawal isu strategis ekonomi dan sosial di daerah. Organisasi itu juga mempercayakan dosen Polimdo, Dr. Olivia Moningka S.T, M.Ars, sebagai Dewan Kehormatan PW IWO Sulut.
"Pers, khususnya rekan-rekan IWO Sulut, adalah mitra strategis kami. Sinergi antara data yang dikawal oleh media dan solusi vokasi berbasis SDGs dari Polimdo adalah kunci agar Sulawesi Utara mampu melewati tantangan volatilitas pasar dan mewujudkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan pascasensus ekonomi 2026," tutupnya.