SULAWESI UTARA — Mohammed Hammad membawa "Safe Exit" ke El Gouna Film Festival untuk penayangan perdana nasional di Mesir, setelah film itu debut di seksi Panorama Berlinale 2026. Sebelumnya, "Safe Exit" meraih Atlas Prize untuk kategori pascaproduksi di Atlas Workshops Marrakech Film Festival 2025. Film ini menjadi karya kedua Hammad setelah "Withered Green" yang tayang di Locarno 2016.
Mohammed Hammad menegaskan bahwa kebebasan berekspresi adalah harga mati baginya sebagai pembuat film. "Safe Exit" diproduksi sepenuhnya dengan dana sendiri melalui rumah produksi baru bernama Pariedolia Productions, yang ia bentuk bersama produser Kholoud Saad.
Alasan Memilih Jalur Produksi Independen
Hammad mengaku memilih model pendanaan mandiri karena banyak studio di Mesir menghindari film dengan topik seperti "Safe Exit". Ia menyebut proses mendapatkan izin syuting pun sangat sulit.
Meski demikian, Hammad tetap yakin film ini harus dibuat, sama seperti saat ia menggarap "Withered Green" bersama Kholoud Saad.
Dukungan Produser dari Tunisia dan Mesir
Film ini melibatkan Dora Bouchoucha dari Nomadis Images, Tunisia, sebagai co-producer utama. Ibrahim El-Battout, yang disebut Hammad sebagai salah satu godfather sinema independen Mesir, juga bergabung sebagai co-producer sekaligus penasihat.
Ibrahim mendampingi Hammad sejak tahap praproduksi hingga syuting berlangsung setiap hari. Nama Ibrahim dikenal sejajar dengan Khairy Beshara dan Yousry Nasrallah di jagat film independen Mesir.
Proyek yang Tertunda Akibat Sensor
Setelah "Withered Green" tayang pada 2014, Hammad mengerjakan proyek berjudul "Bullets & Bread", sebuah road movie yang melibatkan Film Clinic sebagai salah satu produser. Naskahnya meraih Red Sea Lodge Award untuk Proyek Arab pada 2020.
Namun proyek tersebut ditolak lembaga sensor saat Hammad tengah melakukan scouting lokasi. Empat tahun kerja terhenti, dan Hammad sempat tidak bisa menulis.
Ia kemudian menghubungi sutradara senior Daoud Abdel Sayed yang menyarankannya memulai proyek baru. Sekitar sebulan kemudian, Hammad mulai menulis "Safe Exit" dan merampungkan naskahnya dalam waktu sekitar satu tahun.
Negosiasi dengan Lembaga Sensor
Hammad menyadari "Safe Exit" juga berisiko menghadapi sensor karena topik yang diangkat. Ia mengaku menjalani diskusi panjang dengan kantor sensor, dan menurutnya diskusi itu justru berdampak positif pada film.
Saat ini, izin yang diberikan memungkinkan "Safe Exit" tayang di festival-festival dalam wilayah Mesir, dengan El Gouna sebagai penayangan perdana nasional.
"Saya perlu bebas sebagai pembuat film, untuk mengekspresikan sudut pandang saya dan memilih topik yang ingin saya angkat," ujar Hammad kepada Variety.
Ia juga menyampaikan rasa syukur atas dukungan El Gouna Film Festival. Baginya, tayang di Mesir bersama para pemain dan kru adalah momen yang sangat penting.
Tiga Karakter Utama di Safe Exit
"Safe Exit" menghadirkan tiga tokoh utama yang berbeda latar belakang: Samaan, pemuda Koptik yang mengalami trauma; Fatimah, perempuan Muslim tunawisma; dan Abdullah, seorang teroris Islam.
Hammad menyebut Samaan dan Fatimah sebagai karakter yang sangat murni. Samaan kehilangan ayahnya yang dibunuh ISIS di Libya dan hidup dengan PTSD kronis. Fatimah buta huruf dan tanpa dokumen resmi, tetapi jauh lebih spontan dan banyak bicara.
Meski berbeda, keduanya sama-sama berada di margin masyarakat. Hammad menyebut komunitas Koptik di Mesir berjumlah sekitar 15 juta orang, banyak yang sukses dan terintegrasi, namun tetap menghadapi persoalan khas sebagai kelompok minoritas.
Pendekatan Sembilan Bulan Latihan
Marwan Waleed, pemeran Samaan, adalah pendatang baru yang baru muncul di satu serial. Sementara Noha Foad, pemeran Fatimah, sudah lama bersahabat dengan Hammad dan pernah membintangi film pendeknya "Pale Red" pada 2010.
Keduanya menjalani latihan intensif selama sembilan bulan. Tahap pertama diisi dengan membiasakan mereka hidup dan berbicara bersama, berjalan di jalanan Downtown Cairo, duduk minum kopi, hingga membangun pertemanan.
Baru setelah kedekatan itu terbentuk, Hammad membahas cerita dan karakter yang akan mereka perankan.
Perjalanan "Safe Exit" dari pendanaan mandiri hingga panggung Berlinale dan El Gouna menegaskan posisi Hammad sebagai salah satu suara independen yang gigih di sinema Timur Tengah.