SULAWESI UTARA — Melemahnya rupiah terus berlanjut dengan pembukaan pasar pagi ini di zona merah dengan pelemahan 0,43% ke level Rp17.480/US$ pada pembukaan perdagangan, berdasarkan data Refinitiv. Pergerakan mata uang Garuda ini mencerminkan eskalasi ketegangan global yang berdampak luas pada valuta emerging markets dan pasar finansial regional.
Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi gencatan senjata dengan Iran kini "di ujung tanduk" setelah Teheran menolak proposal Washington untuk mengakhiri perang. Iran menuntut serangkaian syarat yang ambisius: penghentian konflik di semua front termasuk Lebanon, kompensasi atas kerusakan perang, pencabutan blokade laut AS, jaminan tidak ada serangan lanjutan, dan pemulihan ekspor minyaknya sepenuhnya.
Trump menyatakan respons Iran "sama sekali tidak dapat diterima" dan memperingatkan bahwa gencatan senjata yang berlaku sejak 7 April mengalami risiko keruntuhan. Ketegangan ini langsung berdampak pada pasar energi global: harga minyak Brent Crude melompat lebih dari 3% melampaui US$104 per barel.
Ancaman serius bagi pasar global muncul dari pernyataan Iran mengenai kontrol atas Selat Hormuz—jalur strategis yang biasanya mengalirkan sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia. Arus kapal melalui selat ini sudah mulai menyusut drastis, memaksa produsen minyak untuk memangkas volume ekspor dan memberikan tekanan langsung pada pasokan global.
Di sisi lain, AS memperkuat strategi ekonomi dengan menjatuhkan sanksi baru terhadap pihak-pihak yang membantu Iran mengekspor minyak ke China. Kombinasi risiko supply chain dan perluasan sanksi ini menciptakan skenario stagflationary—tekanan inflasi minyak tanpa pertumbuhan ekonomi—yang mengganggu mata uang negara importir energi seperti Indonesia.
Indonesia sebagai negara net importer minyak sangat rentan terhadap volatilitas harga energi. Ketika harga minyak naik tanpa diimbangi permintaan, biaya impor meningkat, membuat arus devisa keluar lebih besar untuk membayar pembelian energi. Investor asing juga cenderung melepas posisi di emerging markets untuk mencari safe haven di dolar AS dan instrumen pemerintah AS—preferensi yang kuat mendorong penguatan dolar terhadap semua valuta regional.
Level Rp17.500/US$ menunjukkan tekanan sistemik yang meluas. Bank sentral dan Kementerian Keuangan menghadapi tantangan ganda: menjaga stabilitas rupiah tanpa mengeluarkan cadangan devisa terlalu besar, sambil memantau dampak terhadap biaya impor dan profitabilitas perusahaan multinasional di Indonesia.
Presiden Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden Xi Jinping di Beijing pada hari Rabu, dengan isu Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama. Hasil pertemuan ini berpotensi mengubah dinamika ketegangan global dan, secara tidak langsung, volatilitas kurs rupiah dalam minggu-minggu mendatang. Jika pertemuan menghasilkan de-eskalasi, tekanan pada rupiah dapat meringan; sebaliknya, eskalasi akan terus menekan mata uang emerging markets.
Di dalam negeri, laporan menunjukkan dua dari tiga warga Amerika menilai Trump belum menjelaskan tujuan perang secara jelas, menambah ketidakpastian pasar. Akumulasi ketidakpastian ini akan terus menjadi beban bagi investor yang mencari stabilitas dalam emerging markets, termasuk Indonesia.