Windows Era XP Muncul di Sistem Kereta Tanpa Masinis London, Bukti Usia Infrastruktur Digital yang Menua

Penulis: Yoga Permadi  •  Minggu, 14 Juni 2026 | 02:09:31 WIB
Sistem kereta tanpa masinis London terekam menggunakan Windows XP yang sudah usang.

Sebuah tangkapan layar yang diabadikan oleh penumpang bernama Tim Hayward memperlihatkan jendela eror aplikasi bernama DaisySignApp.exe. Di balik pesan galat tersebut, tampak jelas ikon Recycle Bin khas Windows XP—atau saudara kembarnya, Windows Server 2003—yang menjadi penanda sistem operasi berusia lebih dari satu dekade itu masih berdenyut di balik layar informasi penumpang DLR.

Microsoft resmi mengakhiri dukungan untuk Windows XP pada 2014, disusul Windows Server 2003 setahun kemudian. Artinya, sistem yang terekam di Limehouse itu sudah tidak lagi menerima tambalan keamanan selama hampir 10 tahun. Bagi para ahli keamanan siber, ini adalah pemandangan yang mengerikan. Namun, bagi para insinyur sistem, ini adalah kenyataan pahit yang akrab: jika tidak rusak, mengapa harus diperbaiki?

Limehouse: Stasiun Tua yang Berjalan di Atas Sistem Lebih Tua

Stasiun Limehouse sendiri sudah beroperasi sejak 1987, saat DLR pertama kali dibuka. Kala itu, Microsoft baru saja meluncurkan Windows 2.0—nenek moyang dari antarmuka grafis yang sekarang mendominasi dunia. Ironisnya, infrastruktur fisik DLR justru terlihat lebih futuristik di zamannya dibandingkan dengan perangkat lunak yang menjalankannya saat ini.

Menurut Hayward, kemungkinan besar sistem operasi yang tertangkap basah adalah Windows Server 2003, mengingat tampilan shell-nya yang sudah dipangkas dari fitur-fitur khas XP. Namun, terlepas dari versi pastinya, satu hal yang pasti: umur teknis perangkat lunak ini sudah jauh melampaui batas wajar.

Bukan Salah OS, Tapi Aplikasi yang Tidak Sopan

Para administrator TI biasanya berpegang pada prinsip "jangan perbaiki yang tidak rusak." Dalam kasus DLR, sistem operasi lawas mungkin masih menjalankan tugasnya dengan stabil—sampai sebuah aplikasi bernama DaisySignApp.exe memutuskan untuk membuang eror ke wajah penumpang. "Bisa dibilang, bukan Windows-nya yang salah, melainkan aplikasi itu yang seharusnya menyelesaikan masalahnya sendiri, bukan menampilkan exception di depan publik," tulis pengamat teknologi dalam laporan The Register.

Kejadian ini mengingatkan pada fenomena yang kerap terjadi di Indonesia: mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang masih menjalankan Windows XP, atau sistem antrean di rumah sakit yang tiba-tiba menampilkan layar biru kematian. Infrastruktur kritis sering kali menjadi korban dari anggaran pemeliharaan yang ketat dan resistensi terhadap perubahan.

Apa yang Bisa Dipelajari Indonesia?

Di tengah gencarnya transformasi digital nasional, kasus DLR menjadi tamparan halus. Sistem transportasi publik modern seperti MRT Jakarta atau LRT Jabodebek mungkin masih segar, tapi perangkat lunak pendukungnya—dari sistem sinyal hingga aplikasi informasi penumpang—perlu diaudit secara berkala. Ketergantungan pada sistem operasi yang sudah mati dukungan bukan hanya soal risiko keamanan, tetapi juga soal kesiapan menghadapi kegagalan di jam sibuk.

Kasus Limehouse membuktikan bahwa masa lalu bisa saja muncul di stasiun masa depan. Dan ketika itu terjadi, yang terlihat bukan hanya eror di layar, melainkan celah dalam rantai keputusan yang menunda pembaruan.

Reporter: Yoga Permadi
Sumber: theregister.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top