SULAWESI UTARA — Penandatanganan nota kesepahaman itu digelar di Washington, D.C., pekan ini. Dalam pernyataan resmi Gedung Putih, Trump menyebut MoU tersebut sebagai bukti keberhasilan tekanan maksimum yang membawa Iran ke meja perundingan.
Trump secara terbuka menyatakan perang dengan Iran telah berakhir melalui kesepakatan damai ini. Ia menyisipkan klaim bahwa militer Amerika Serikat masih menjadi yang terkuat di dunia, pernyataan yang kerap ia ulang di berbagai forum internasional.
"Kami memiliki kekuatan militer terkuat di dunia," ujar Trump dalam konferensi pers setelah penandatanganan, dikutip dari keterangan resmi yang diterima redaksi.
Ketegangan Washington-Teheran meningkat tajam dalam beberapa tahun terakhir. Pemicunya adalah penarikan AS dari kesepakatan nuklir 2015 dan penerapan sanksi ekonomi berat.
Eskalasi militer sempat terjadi di kawasan Teluk Persia, memicu kekhawatiran pecahnya perang terbuka. Proses negosiasi yang berujung pada MoU ini berlangsung tertutup selama beberapa bulan terakhir.
Pemerintah Iran belum mengeluarkan pernyataan resmi mengenai detail kesepakatan yang ditandatangani.
Sejumlah negara menyambut baik langkah de-eskalasi ini. Namun, beberapa pihak masih menyoroti ketiadaan jaminan implementasi jangka panjang.
Bagi Indonesia, kesepakatan ini berpotensi menstabilkan harga energi global. Iran adalah salah satu produsen minyak utama dunia.
Kementerian Luar Negeri RI belum memberikan tanggapan resmi terkait MoU AS-Iran tersebut. Pengamat hubungan internasional menilai stabilitas Timur Tengah selalu berdampak langsung pada arus perdagangan dan harga komoditas di dalam negeri.