SULAWESI UTARA — Databricks mengumumkan pendanaan baru pada Kamis pekan lalu yang membuat valuasi perusahaan melesat ke angka 188 miliar dolar AS. Putaran yang dipimpin oleh Coatue ini belum sepenuhnya ditutup—perusahaan menyebut dana belum masuk dan prosesnya akan rampung pada musim panas tahun ini. Meski begitu, sumber dari kalangan venture capitalist mengatakan kepada TechCrunch bahwa kesepakatan sudah solid karena banyak firma antre untuk ikut serta.
Databricks makin gencar mempromosikan model AI open-weight—model yang kode dasarnya bisa diakses dan dimodifikasi publik—sebagai solusi penghematan biaya. CEO Ali Ghodsi pekan lalu membagikan hasil benchmarking internal yang dilakukan untuk mengelola biaya AI di perusahaannya yang mempekerjakan 3.000 software engineer.
Perusahaan membandingkan berbagai model AI pada tugas coding yang sesungguhnya dikerjakan oleh programmer mereka. Hasilnya, model open—khususnya GLM 5.2 buatan Z.ai—mampu menangani tingkat kesulitan tertinggi dalam coding dengan biaya total lebih rendah dibanding model proprietary dari Anthropic dan OpenAI.
Yang mengejutkan, Databricks menemukan bahwa pilihan harness—alat coding berbasis agen seperti Codex atau Claude Code yang membungkus model dan mengelola konteks serta instruksi—sama besarnya dampaknya terhadap biaya. Open-source harness Pi dinilai paling baik dalam mengelola konteks di setiap prompt, sehingga menjadi pilihan termurah tanpa mengorbankan kualitas.
“The lesson here isn’t that one harness is always cheaper or that native harnesses are worse,” tulis Databricks dalam blog post hasil riset tersebut. “Instead, model choice is only one piece of the puzzle.”
Ini bukan pendanaan pertama Databricks dalam waktu singkat. Lima bulan lalu, pada Februari, perusahaan menutup putaran Series L senilai 5 miliar dolar AS di valuasi 134 miliar dolar AS. Sebelumnya, pada September 2025, mereka mengumpulkan 1 miliar dolar AS di valuasi 100 miliar dolar AS. Dan pada Desember 2024, pendanaan rekor 10 miliar dolar AS di valuasi 62 miliar dolar AS.
Banyaknya putaran pendanaan ini bahkan menjadi bahan meme di kalangan pengamat. “Turning on alerts for when we get a Series AA,” tulis seseorang di media sosial.
Didirikan pada 2013, Databricks awalnya sukses di era big data dengan software yang memungkinkan perusahaan menyimpan data dalam jumlah besar di cloud dan tetap menghasilkan analitik cepat. Karena sudah mengelola data enterprise dalam jumlah besar, perusahaan ini berada di posisi tepat saat perusahaan mulai menginginkan AI dengan keamanan dan tata kelola yang sama seperti software enterprise tradisional.
Databricks terus merilis produk AI: Lakebase, database yang dibangun untuk agen AI; Unity, AI gateway; dan Omnigent, “meta-harness” yang mengelola banyak agen sekaligus. Semua ini memperkuat citra Databricks sebagai perusahaan AI, meski tidak didirikan sebagai laboratorium AI. Efek ini pula yang membuat valuasinya melesat—fenomena yang bahkan terlihat di luar sektor teknologi, seperti sandwich shop Jersey Mike’s yang menyebut AI 22 kali dalam dokumen S-1 mereka.