SULAWESI UTARA — Honda membuka sesi Media Deep Dive di GIIAS 2026 dengan satu pesan yang cukup gamblang: mereka sadar betul pertanyaan pertama dari konsumen Indonesia soal Super ONE adalah harga, bukan tenaga atau jarak tempuh. Di Jepang, mobil listrik ini dibanderol sekitar Rp390 juta. Untuk pasar Indonesia, prediksi sementara ada di kisaran Rp450 jutaan — angka yang langsung memicu perbandingan dengan BYD atau SUV China dengan fitur lebih lengkap.
Alih-alih membantah, Honda justru memilih jalur berbeda. Mereka tidak membahas angka. Yang dipresentasikan adalah filosofi. Lima poin muncul di layar: Super ONE adalah EV pertama Honda yang benar-benar bisa dimiliki konsumen Indonesia, pernyataan tentang Joy of Driving di era listrik, produksi terbatas 100 unit sepanjang 2026, ditujukan untuk mereka yang ingin EV tanpa kehilangan karakter Honda, dan representasi DNA seluruh lini produk Honda.
Honda memakai kalimat sederhana: Engineered for Driving Joy. Ini bukan tagline baru — sudah menjadi fondasi pabrikan ini puluhan tahun. Bedanya, sekarang mesin bensin diganti motor listrik. Yang dipertahankan adalah rasa kemudi.
Pendekatan mereka dirangkum dalam satu frasa: "A Honda First. Electric Second." Artinya, Super ONE lebih dulu dibuat sebagai sebuah Honda, baru kemudian dijadikan mobil listrik. Bukan sebaliknya. Ini poin penting yang membedakannya dari mayoritas EV China yang mengedepankan fitur dan layar besar di atas segalanya.
Bagi pengemudi yang sudah lama memakai Honda — entah Brio, Civic, atau CR-V — bahasa ini mungkin langsung bisa dipahami. Karakter setir, respons pedal, dan keseimbangan chassis adalah hal yang sulit diukur dengan angka, tapi langsung terasa saat pertama kali memegang kemudi.
Ini keputusan yang menarik. Honda sengaja membatasi produksi Super ONE hanya 100 unit sepanjang 2026 — bahkan lebih sedikit dibanding Prelude e:HEV yang juga dirilis tahun yang sama. Kelangkaan ini jelas menaikkan nilai eksklusivitas, tapi di sisi lain membuat mobil ini sulit dijangkau.
Kalau target pasar adalah konsumen yang mencari EV harian, angka 100 unit jelas tidak masuk akal. Tapi kalau tujuannya membangun citra — bahwa Honda serius di era elektrifikasi tanpa mengorbankan identitas — maka ini langkah yang justru cerdas. Super ONE bukan kendaraan volume. Ia semacam pernyataan sikap.
Beberapa catatan penting sebelum kamu tergoda:
Super ONE jelas bukan untuk pembeli yang membandingkan daftar fitur di atas kertas. Ia untuk pengemudi yang sudah bosan dengan EV yang terasa seperti gadget beroda — cepat, dingin, tapi tidak punya jiwa. Honda mencoba mengisi celah itu dengan mobil yang tetap menyenangkan dikendarai meski sumber tenaganya sudah listrik.
Kalau kamu tipe yang percaya bahwa mobil harus punya karakter, dan harga Rp450 jutaan bukan masalah besar, Super ONE layak masuk daftar tunggu. Tapi kalau yang kamu cari adalah nilai paling masuk akal untuk uangmu, ada banyak pilihan lain di kelas yang sama. Honda tidak akan tersinggung — mereka memang tidak menargetkanmu.