SULAWESI UTARA — Subholding Upstream Pertamina ini mengerjakan berbagai proyek secara paralel, baik di darat maupun laut. Hasilnya, hingga akhir Juni 2026, PHE mengamankan potensi sumber daya kontingen (2C) sebesar 108 juta barel setara minyak (MMBOE). Angka ini belum termasuk temuan besar dari Wilayah Kerja Rokan yang menyimpan potensi hingga 724,22 juta barel minyak dari Migas Non Konvensional (MNK).
Salah satu pekerjaan besar yang baru saja dituntaskan adalah akuisisi Survei Seismik 3D Kandawulo di perairan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. Area seluas 2.500 km² ini dipindai menggunakan teknologi broadband marine streamer untuk membaca struktur bawah permukaan bumi.
Pengerjaan yang merupakan bagian dari Komitmen Kerja Pasti Jambi Merang (KKPJM) ini selesai lebih cepat dari jadwal dan mencatatkan zero accident. PT Elnusa Tbk menjadi mitra strategis dalam proyek ini.
"Keberhasilan Survei Seismik 3D Kandawulo yang diselesaikan lebih cepat dari rencana dengan catatan zero accident merupakan bukti komitmen Pertamina Subholding Upstream dalam menghadirkan kinerja eksplorasi yang unggul, aman, dan berkelanjutan," kata Hermansyah Y Nasroen, Corporate Secretary PHE, Senin (17/8).
Di sisi operasional, anak usaha PHE di Kalimantan juga bergerak cepat. PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) merampungkan pemasangan topside platform Proyek Manpatu pada akhir Mei 2026. Sebulan berselang, platform keempat Proyek Sisi Nubi AOI berhasil mencapai onstream untuk memperkuat pasokan gas nasional.
Pencapaian ini memastikan keandalan operasi di wilayah Kalimantan, yang menjadi salah satu penopang utama produksi gas bumi Indonesia.
PHE juga membawa teknologi Enhanced Oil Recovery (EOR) ke wilayah laut untuk pertama kalinya di Indonesia. Anak usahanya, PT Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES), memulai injeksi perdana polimer di Lapangan Offshore Rama, Wilayah Kerja Southeast Sumatra (WK SES).
Metode polymer flooding ini bertujuan mendorong sisa minyak di lapangan tua agar bisa diproduksikan optimal. Proyek ini ditargetkan memberikan manfaat penuh hingga tahun 2030.
"Injeksi perdana polimer di Lapangan Rama merupakan inovasi CEOR offshore pertama di Indonesia. Proyek ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi minyak, tetapi juga menjadi sarana pengumpulan data operasional dan validasi teknologi," jelas Hermansyah.
Sebelumnya, teknologi serupa telah diterapkan di Lapangan Minas Area A, Zona Rokan, yang dikelola Pertamina Hulu Rokan (PHR). Lapangan yang berproduksi sejak 1952 ini ditargetkan meningkatkan perolehan minyak 12% hingga 16% dari Original Oil in Place (OOIP).
PHR menargetkan proyek CEOR komersial ini berkontribusi sekitar 70 ribu barel per hari pada 2030, dan memuncak hingga 200 ribu barel per hari pada 2036. Keberhasilan ini membuka jalan pengembangan CEOR di area Rokan lainnya seperti Minas Area B, C, D, Balam South, Balam, Bangko, hingga Petani.
Untuk menjaga keberlanjutan jangka panjang, PHE agresif menambah wilayah kerja (WK) eksplorasi. Sejak 2022 hingga 2025, perusahaan mengantongi sembilan WK baru. Pada 2025 saja, tiga WK baru didapatkan: Binaiya di Maluku, Lavender di Sulawesi Tenggara, dan Bobara di Papua.
Seluruh pencapaian ini dipersembahkan sebagai kado istimewa bagi Indonesia pada peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81, sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional di tengah meningkatnya kebutuhan domestik.