Insinyur NASA di Goddard Space Flight Center, Maryland, baru saja menyelesaikan inspeksi akhir cermin utama teleskop ini pada akhir Mei lalu. Cermin berdiameter 7,9 kaki itu telah melewati "shake test" untuk memastikan ketahanannya terhadap getaran peluncuran, dan dipastikan bebas dari debu atau partikel yang bisa mengganggu pengamatan.
Dari Meja Uji ke Landasan Peluncuran
Kini teleskop sedang dipak untuk perjalanan darat menuju Kennedy Space Center di Florida. Begitu tiba, tim akan memeriksa ulang apakah ada kerusakan akibat transportasi — prosedur standar untuk instrumen senilai miliaran dolar.
Dalam minggu-minggu menjelang peluncuran, Roman akan menjalani serangkaian gladi resik, diisi bahan bakar, dan terakhir dibungkus dalam fairing pelindung sebelum dipasang di atas roket Falcon Heavy milik SpaceX. NASA menargetkan jendela peluncuran pada 30 Agustus 2026, lebih cepat dari jadwal September yang diumumkan awal tahun ini.
Mata Raksasa di Titik L2
Setelah lepas landas, Roman akan menuju Sun-Earth L2 Lagrange point — titik gravitasi stabil di belakang Bumi yang sama-sama ditempati oleh Teleskop James Webb. Bedanya, Roman dirancang untuk menjadi "pemotret panorama" kosmos.
Dengan bidang pandang 100 kali lebih besar dari Hubble, teleskop ini bisa menangkap area langit yang luas dalam waktu singkat. Kecepatan ini penting untuk misi utamanya: memetakan distribusi energi gelap dan mengidentifikasi eksoplanet yang mengorbit bintang jauh.
Bukan Sekadar Teleskop Satu Misi
"Semua pekerjaan ini akan berpuncak pada Roman yang memberikan pemandangan alam semesta yang belum pernah terlihat sebelumnya," kata NASA dalam pengumuman resminya. Namun yang lebih menarik: data Roman tidak hanya untuk tim inti NASA.
Badan antariksa AS itu membuka akses observasi bagi astronom lain yang memiliki tujuan riset sendiri. Artinya, temuan Roman bisa menjawab lebih banyak pertanyaan tentang alam semesta — dari pembentukan galaksi hingga evolusi bintang — yang bahkan tidak direncanakan saat teleskop ini dirancang.
Bagi Indonesia, kehadiran Roman di orbit berarti potensi data sains yang bisa diakses oleh peneliti dalam negeri. Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) sebelumnya telah memanfaatkan data teleskop luar angkasa internasional untuk studi astrofisika, dan Roman akan menambah gudang informasi baru yang jauh lebih kaya.
Warisan Nancy Grace Roman
Teleskop ini dinamai dari Nancy Grace Roman, astronom pertama yang menjabat sebagai kepala NASA — perempuan yang dijuluki "Mother of Hubble" karena perannya dalam mewujudkan teleskop legendaris itu. Kini namanya diabadikan pada instrumen yang akan melanjutkan warisan Hubble dengan cara yang berbeda: bukan menggantikan, melainkan melengkapi.
Jika Hubble adalah mata yang melihat detail, Roman adalah mata yang melihat keseluruhan lukisan. Dan Agustus 2026, lukisan itu mulai terbuka.