Pencarian

Gerakan Slowtech Menggoda Generasi Muda Indonesia untuk Beralih ke iPod Bekas dan Ponsel Lipat Demi Kurangi Layar

Kamis, 18 Juni 2026 • 01:59:31 WIB
Gerakan Slowtech Menggoda Generasi Muda Indonesia untuk Beralih ke iPod Bekas dan Ponsel Lipat Demi Kurangi Layar
Tony Fadell mengenang iPod Shuffle melalui iklan besar di Stasiun Kereta 28th Street New York.

Tony Fadell, sang "bapak iPod," terkejut saat melihat poster iPod Shuffle di Stasiun Kereta 28th Street New York. Iklan berukuran lima kali empat kaki itu mempromosikan perangkat tanpa layar dengan janji "Zero screen time"—sebuah ironi di era streaming musik tanpa batas. "Bagi saya yang mengenal benda itu secara intim, rasanya seperti melihat foto anak sendiri," kata Fadell kepada TechCrunch.

Kenapa Perangkat "Ketinggalan Zaman" Kini Laris Manis

Joy Howard, CMO Back Market—pasar online untuk barang elektronik refurbished—menyebut fenomena ini sebagai gerakan slowtech. "Orang-orang sangat jenuh dan terlalu terstimulasi. Mereka benar-benar ingin pendekatan yang lebih sadar terhadap teknologi," ujarnya. Back Market berani memasang iklan premium di stasiun sibuk karena permintaan terhadap perangkat usang ini terus tumbuh, terutama dari generasi yang tidak pernah mengenal dunia tanpa media sosial.

Bagi Gen Z dan milenial muda di Indonesia, pesona headphone kabel, kamera digital point-and-shoot, dan konsol gim retro terletak pada satu hal: perangkat itu tidak berusaha merebut perhatian mereka. Kamera lawas tidak bisa langsung mengunggah foto ke Instagram Stories, gim retro tidak membombardir pemain dengan iklan judi, dan iPod tidak memutar lagu berdasarkan algoritma yang menentukan apa yang "harus" Anda nikmati.

Friction sebagai Fitur, Bukan Cacat

Howard menjelaskan bahwa fast tech selama ini bertujuan menghilangkan gesekan. Kini, orang justru mencari gesekan sebagai batasan. "Sungguh menakjubkan bahwa orang sekarang ingin menghadirkan kembali gesekan ke dalam hidup mereka dan melihatnya sebagai fitur, bukan cacat," katanya. Prinsip ini terdengar asing di Indonesia, di mana adopsi teknologi super-app seperti Gojek dan Shopee justru dipuji karena menghilangkan hambatan—namun di sisi lain, rata-rata waktu layar pengguna ponsel di Tanah Air juga masuk kategori tertinggi di dunia.

Dari Pencipta Kecanduan ke Penawar Layar

Austin Murray, pendiri JAMDAT—salah satu perusahaan gim ponsel pertama yang dijual ke Electronic Arts seharga 680 juta dolar AS—kini membangun aplikasi pengurang waktu layar bernama MOQA. "Menyaksikan apa yang terjadi pada anak-anak saya dan orang-orang di sekitar saya adalah hal yang paling menyakiti jiwa saya," ujar Murray. Baginya, kecanduan layar bukan masalah kemauan, melainkan masalah desain produk. Sekitar 53% orang dewasa Amerika mengaku ingin mengurangi waktu layar mereka—sebuah angka yang kemungkinan besar tak jauh berbeda di Indonesia.

Penulis Calvin Kasulke, yang novelnya "Several People Are Typing" membayangkan pekerja terjebak di ruang kerja Slack, mengaku membayar aplikasi pembatas layar seperti Opal dan Freedom. "Saya tidak perlu membatasi waktu di iMessage—itu orang yang benar-benar saya kenal! Tapi saya pasti tidak ingin membuang waktu dengan doomscrolling," katanya. Ia menambahkan, "Saya tidak merasa sombong soal ini. Memalukan memiliki dua aplikasi berbeda untuk membatasi cara saya menggunakan ponsel."

Ponsel Minimalis Mulai Dilirik

Sebagian pengguna bahkan meninggalkan iPhone dan beralih ke ponsel flip, perangkat e-ink berbasis Android, atau Light Phone—ponsel dengan layar minimalis yang hanya menjalankan fungsi dasar. "Pelanggan kami selama 10 tahun terakhir mengatakan betapa mereka merasa lebih bebas setelah beralih ke Light Phone," kata Kaiwei Tang, salah satu pendiri Light. Di Indonesia, komunitas dumbphone dan pengguna ponsel second-hand juga mulai tumbuh, meskipun masih merupakan ceruk kecil di tengah pasar ponsel flagship yang mendominasi iklan.

Gerakan slowtech bukanlah penolakan terhadap teknologi, melainkan sebuah tawar-menawar ulang: bagaimana menikmati manfaat digital tanpa membiarkan perangkat mengontrol waktu, perhatian, dan kehidupan kita. Bagi pengguna Indonesia yang lelah dengan notifikasi tanpa henti, iPod Shuffle bekas seharga beberapa ratus ribu rupiah mungkin bukan sekadar barang nostalgia, melainkan alat pembebasan.

Bagikan
Sumber: techcrunch.com

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks