MANADO — Sepanjang Juni 2026, Sulawesi Utara diguncang lebih dari seribu kali gempa bumi. Koordinator Bidang Data dan Informasi BMKG Stasiun Geofisika Manado, Muhammad Zulkifli, mengungkapkan bahwa 892 dari total 1.144 kejadian merupakan gempa bumi dangkal yang terjadi di kerak bumi bagian atas.
"Berdasarkan distribusi kedalaman hiposenter, aktivitas gempa bumi didominasi gempa bumi dangkal yang terjadi pada kerak bumi bagian atas," kata Zulkifli di Manado, Jumat.
Magnitudo dari M1,9 hingga M7,7
BMKG mencatat rentang magnitudo gempa yang terjadi sangat lebar, mulai dari M1,9 hingga M7,7. Selain gempa dangkal, terdapat 250 gempa bumi menengah dan dua gempa bumi dalam.
Meski jumlah kejadian sangat tinggi, tidak semua gempa dirasakan warga. Dari ribuan kejadian tersebut, hanya 17 gempa yang getarannya dilaporkan sampai ke permukiman penduduk.
17 Gempa Terasa, dari Sangihe hingga Manado dan Bitung
Wilayah yang merasakan guncangan terbentang luas, meliputi Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, hingga Kota Manado dan Bitung. Gempa juga terasa di beberapa daerah di luar Sulawesi Utara, seperti Morotai, Halmahera Utara, Ternate, hingga Parigi Moutong dan Palu di Sulawesi Tengah.
Daftar lengkap wilayah yang merasakan getaran meliputi Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, Morotai, Halmahera Utara, Toli-Toli, Gorontalo Utara, Batang Dua, Ternate, Halmahera Barat, Gorontalo, Halmahera Selatan, Halmahera Timur, Parigi Moutong, Kota Manado, Kabupaten Minahasa, Palu, Kota Bitung, Kabupaten Bolaang Mongondow Timur, dan Halmahera Tengah.
Konsentrasi Aktivitas di Tiga Titik Rawan Tektonik
Berdasarkan peta seismisitas dan distribusi episenter, BMKG memetakan konsentrasi aktivitas gempa di tiga wilayah utama: Laut Maluku, Teluk Tomini, dan Laut Sulawesi. Zona-zona ini dikenal sebagai kawasan pertemuan lempeng dan subduksi aktif.
"Konsentrasi aktivitas tersebut menunjukkan tingginya dinamika tektonik di kawasan pertemuan lempeng dan zona subduksi di sekitar Sulawesi Utara dan Maluku Utara," jelas Zulkifli.
Data ini menjadi pengingat bagi warga Sulawesi Utara dan sekitarnya untuk selalu waspada terhadap potensi gempa susulan, mengingat posisi kawasan yang berada di jalur cincin api Pasifik.