SULAWESI UTARA — Pemerintah tengah merombak total struktur kepemilikan dan keuangan proyek kereta cepat senilai Rp 122 triliun ini. Setelah proses ini rampung, KCIC tidak lagi berada di bawah naungan PT Kereta Api Indonesia (KAI) atau Danantara, melainkan langsung di bawah kendali Kementerian Keuangan. Keputusan ini diambil untuk memastikan penyelesaian utang proyek tidak mengganggu arus kas BUMN dan menjaga kesehatan fiskal negara.
Skema Baru: Utang Tidak Membebani APBN
Kekhawatiran publik mengenai pembiayaan utang Whoosh yang akan membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) langsung dijawab tegas oleh Menkeu. Purbaya memastikan restrukturisasi ini tidak akan menggerus uang negara secara langsung. Penyelesaian kewajiban finansial akan dikelola melalui dua lembaga Special Mission Vehicle (SMV) di bawah Kemenkeu, seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI) dan lembaga pembiayaan lainnya.
"Jadi enggak langsung jadi tanggung jawab APBN. Walaupun oleh pemerintah, tidak akan membebani APBN," tegas Purbaya usai bertemu COO Danantara Dony Oskaria di kantornya, Rabu (5/8/2026).
Dana untuk membayar utang proyek nantinya dapat bersumber dari keuntungan operasional yang dihasilkan oleh SMV-SMV tersebut. Purbaya memastikan kapasitas fiskal dua lembaga itu cukup untuk menopang kewajiban pembayaran. "SMV kan punya untung juga kan, sebagian dialihkan ke situ keuntungan, kira-kira begitu gambaran kasarnya," jelasnya.
Kepemilikan Bergeser, China Masih Bertahan
Pergeseran kepemilikan ini mengubah peta saham KCIC secara signifikan. Sebelumnya, 60% saham Indonesia dipegang oleh PSBI—konsorsium yang beranggotakan KAI, PTPN VIII, dan Wijaya Karya. Kini, saham tersebut berpindah ke tangan negara secara langsung melalui Kemenkeu. Sementara itu, konsorsium asal China tetap memegang 40% saham dan dipastikan masih berkomitmen melanjutkan proyek.
Purbaya mengungkapkan bahwa pihak China justru menunjukkan minat untuk memperluas kerja sama. "Kita tanya ke China juga sepertinya mereka masih mau melanjutkan proyek ini dan mungkin kalau disuruh kita akan perpanjang ke Jawa Timur sana," bebernya. Wacana perpanjangan jalur kereta cepat ke Surabaya pun kembali mengemuka di tengah proses restrukturisasi yang sedang berjalan.
Tahapan Serah Terima dan Target Penyelesaian
Proses administrasi dan penghitungan detail nilai utang masih terus berjalan. Purbaya menyebutkan bahwa angka pasti kewajiban yang akan ditanggung akan diumumkan pada saat penyerahan resmi. "Pada saat penyerahan nanti, details-nya akan dihitung. Pertengahan September paling lambat," ujarnya.
Langkah ini menjadi titik balik bagi masa depan Whoosh. Dengan pengelolaan yang berada di tangan Kemenkeu, diharapkan struktur permodalan KCIC menjadi lebih ramping dan sehat. Ke depan, fokus pemerintah bukan hanya menyelesaikan beban utang, tetapi juga memastikan operasional kereta cepat yang telah melayani jutaan penumpang sejak beroperasi pada Oktober 2023 ini terus berkelanjutan dan menguntungkan.