Bank Indonesia Perwakilan Sulawesi Utara bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Sulut kembali mendatangkan cabai rawit merah dari Probolinggo, Jawa Timur, sebanyak 2.500 kg pada tahap kedua. Pasokan yang tiba di Manado, Minggu (20/9), itu disalurkan ke lima titik pasar di empat kabupaten dan kota mulai Senin (21/9) untuk menekan harga konsumen maksimal Rp57.000 per kg sesuai Harga Acuan Pembelian (HAP) yang ditetapkan Bapanas.
MANADO — Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sulawesi Utara Purwanto menyatakan Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) Tahap II ini menyasar cabai rawit merah sebanyak 2.500 kg atau 84 koli. Distribusi melibatkan koordinasi BI bersama Pemerintah Provinsi Sulut dan Satgas Pangan Polda setempat.
"Kami memasok cabai rawit sampai tahap kedua di Sulut, karena harga produk pangan yang satu ini masih cukup tinggi di Sulut," kata Purwanto di Manado, Senin.
Langkah ini merupakan tindak lanjut FDP Tahap I yang digelar pada 14–15 September 2026 sebanyak 2,4 ton. Tahap pertama sempat menurunkan harga cabai rawit merah ke level Rp57 ribu per kg di Pasar Bersehati Manado dan Pasar Airmadidi Minahasa Utara.
Harga Kembali Naik, Pasokan Tahap II Diperluas ke Lima Pasar
Data SP2KP menunjukkan harga cabai rawit merah kembali meningkat di beberapa titik pada hari-hari setelah Tahap I. Kondisi itu mengindikasikan tekanan pasokan masih berlangsung.
Berbeda dari Tahap I yang terkonsentrasi di Manado, Minahasa Utara, dan Minahasa Selatan, distribusi Tahap II diperluas ke lima titik pasar di empat kabupaten dan kota. Titik-titik itu meliputi Pasar Bersehati dan Pasar Pinasungkulan Manado, Pasar Airmadidi Minahasa Utara, Pasar Amurang Minahasa Selatan, serta Pasar 23 Maret Kotamobagu.
Perluasan cakupan ini bertujuan memastikan dampak intervensi harga lebih merata dan berkelanjutan. Target harga konsumen ditetapkan maksimal Rp57.000 per kg sesuai HAP yang ditetapkan Bapanas.
Jalur Distribusi Probolinggo–Manado Ditempuh dalam Sehari
Pasokan cabai rawit merah diberangkatkan dari Probolinggo melalui jalur distribusi Probolinggo–Bandara Juanda–Bandara Hasanuddin–Bandara Sam Ratulangi Manado. Rombongan tiba di Manado pada Minggu (20/9).
Penyaluran ke pasar-pasar dilakukan pada Senin (21/9) agar komoditas tersedia saat pasar mulai beraktivitas. Pola pengiriman ini memungkinkan cabai segar sampai ke pedagang tanpa jeda panjang yang berisiko menurunkan kualitas.
TPID Sulut Jaga Stabilitas Harga Pangan Jelang Akhir Tahun
FDP merupakan instrumen TPID untuk menjaga stabilitas harga pangan di daerah. Cabai rawit merah dipilih karena harganya masih cukup tinggi di Sulut meski pasokan dari sentra produksi nasional terus digenjot.
Sinergi BI, Pemprov Sulut, dan Satgas Pangan Polda Sulut menjadi kunci kelancaran distribusi antarwilayah. Setelah Tahap II, pemantauan harga di lima pasar sasaran akan menentukan apakah intervensi lanjutan diperlukan.