SULAWESI UTARA — Kontribusi sektor manufaktur terhadap Produk Domestik Bruto Indonesia merosot menjadi sekitar 19 persen, turun jauh dari posisi puncak sekitar 29 persen pada 2000-an. Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pelemahan industri pengolahan ini menjadi hambatan utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi nasional hingga 8 persen.
Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo Bob Azam mengungkapkan bahwa tekanan terhadap sektor manufaktur makin dalam ketika kontribusi minyak sawit mentah (CPO) dikeluarkan dari perhitungan. Tanpa CPO, sumbangan industri pengolahan terhadap PDB diperkirakan hanya tersisa sekitar 16 persen.
"Kita pernah mencapai 29 persen di tahun 2000-an, tetapi setelah Undang-Undang 13 diundangkan turun terus. Sampai sekarang kira-kira 19 persen, kalau CPO dikeluarkan hanya 16 persen," kata Bob dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat (25/9).
Pemicu Penurunan: Regulasi Ketenagakerjaan Jadi Sorotan
Bob menyoroti bahwa penurunan kontribusi manufaktur berjalan beriringan dengan diberlakukannya Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan. Regulasi itu dinilai menciptakan beban tambahan bagi industri padat karya sehingga memperlambat ekspansi pabrik dan penyerapan tenaga kerja formal.
Menurutnya, berbagai kebijakan yang berpotensi menghambat perkembangan industri perlu dievaluasi ulang. Apindo memandang evaluasi regulasi menjadi langkah mendesak jika pemerintah serius mengejar target pertumbuhan ekonomi 8 persen.
Manufaktur Penopang Lapangan Kerja Formal
Sektor manufaktur selama ini menjadi salah satu penyumbang terbesar lapangan kerja formal di Indonesia. Setiap penurunan kontribusi terhadap PDB berdampak langsung pada berkurangnya kesempatan kerja tetap, terutama bagi pekerja di kawasan industri padat seperti Jabodetabek, Jawa Timur, dan Batam.
Bob menilai penciptaan lapangan kerja formal tidak bisa hanya bergantung pada sektor jasa atau perdagangan. Industri pengolahan tetap dibutuhkan karena menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar sekaligus mendorong nilai tambah bahan baku domestik.