MANADO — Tiga peristiwa besar mewarnai pemberitaan di Sulawesi Utara pada periode 12-18 Mei 2026. Nama Bupati Minahasa Utara Joune Ganda dan Gubernur Sulut Yulius Selvanus menjadi sorotan, bersamaan dengan proses hukum yang berjalan di Kejaksaan Tinggi Sulut.
Pemerintah Kabupaten Minahasa Utara bergerak cepat merespons lonjakan harga beras. Melalui Dinas Pangan, pemkab menghadirkan penjualan beras SPHP (Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan) di Mall Pelayanan Publik.
Warga kini bisa membeli beras kemasan lima kilogram seharga Rp58 ribu. Namun, pembelian dibatasi maksimal lima sak atau 25 kilogram per KTP untuk mencegah penimbunan.
“Pak Bupati meminta kami segera mengambil langkah antisipasi agar masyarakat tidak semakin terbebani dengan kenaikan harga beras,” ujar Kepala Dinas Pangan Minahasa Utara Asriyadi Lalompo.
Kebakaran besar melanda Mega Mall Manado, meninggalkan duka mendalam. Seorang perempuan dilaporkan meninggal dunia dalam peristiwa yang berlangsung lebih dari dua jam itu.
Ribuan warga memadati kawasan Megamas menyaksikan kobaran api dan asap tebal. Proses evakuasi berlangsung dramatis di tengah situasi genting. Aparat gabungan masih menyelidiki penyebab pasti kebakaran.
“Empat orang selamat dalam peristiwa kebakaran tersebut,” ujar Kapolresta Manado Irham Halid.
Kejaksaan Tinggi Sulawesi Utara membantah tegas berbagai opini liar yang beredar terkait penahanan Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit. Kasus dugaan korupsi dana bencana ini disebut murni penegakan hukum.
Penyidik telah memeriksa sekitar 1.350 korban penerima bantuan. Dugaan utama berkaitan dengan dana bencana yang disebut mengendap terlalu lama sebelum disalurkan kepada masyarakat.
“Tidak ada motif apa pun. Tidak ada motif politik. Semua bekerja secara profesional sesuai aturan perundang-undangan,” tegas Asisten Intelijen Kejati Sulut Eri Yudianto.
Di tengah hiruk pikuk berita kriminal dan bencana, Gubernur Sulawesi Utara Yulius Selvanus menghadiri peresmian operasionalisasi 1.061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Minahasa Utara menjadi daerah paling agresif dalam pengembangan koperasi tersebut.
Langkah ini diharapkan mampu menggerakkan ekonomi desa dan memperkuat ketahanan pangan lokal di Sulut.