MANADO — Tiga dekade setelah peristiwa penyerbuan Kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta, PDI Perjuangan di Sulawesi Utara menggelar peringatan Kudatuli yang dikemas sebagai ruang refleksi sejarah. Wakil Ketua DPD PDI Perjuangan Sulut, Fransiscus Andi Silangen, menegaskan peristiwa 27 Juli 1996 harus terus diingat dan diwariskan sebagai bagian dari pembelajaran panjang perjalanan demokrasi Indonesia menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Peristiwa ini harus diingatkan, harus terus diingat, dan diwariskan karena dari peristiwa itu terdapat banyak pembelajaran,” kata Silangen dalam keterangannya, Senin (27/7/2026).
Ketua DPC PDI Perjuangan Kota Manado, dr. Richard Sualang, menjelaskan peringatan ke-30 tahun Kudatuli digelar secara internal di Kantor DPC PDI Perjuangan Kota Manado, Jalan Ring Road II GPI, Buha, tepat di depan Kantor DPRD Kota Manado, mulai pukul 16.30 WITA. Agenda utama kegiatan adalah pemutaran video dokumenter yang merekam peristiwa penyerbuan kantor DPP PDI pada 27 Juli 1996.
“Kegiatan ini bukan sekadar mengenang, tetapi menjadi ruang refleksi agar perjalanan demokrasi Indonesia tetap terjaga dan tidak mengulang pengalaman masa lalu,” ujar Richard Sualang didampingi Ketua Panitia, Fery Sangian, S.Sos., M.AP.
Fery Sangian menambahkan, peringatan Kudatuli tahun ini ingin mengingatkan bahwa 30 tahun lalu lahir gerakan masyarakat sipil yang menjadi bagian dari dinamika perjuangan demokrasi di era Orde Baru. Menurutnya, peristiwa tersebut menjadi alarm moral agar tata kelola negara senantiasa dijalankan secara demokratis, berdasarkan hukum, serta mengedepankan kepentingan rakyat.
“Kami berharap bangsa ini tidak terjebak pada pola pengelolaan negara yang mengabaikan prinsip-prinsip demokrasi dan pemerintahan yang baik,” tegas Fery.
Dalam kesempatan terpisah, Silangen mengaitkan peringatan Kudatuli dengan target pembangunan jangka panjang. Ia mencontohkan perjalanan 100 tahun Partai Komunis China yang berhasil menekan angka kemiskinan hingga nyaris nol. Menurutnya, hal itu menjadi bukti bahwa dengan komitmen kuat, persoalan kemiskinan bisa diatasi.
“Kita harus bersatu menyamakan perspektif untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045. Tujuan yang dicanangkan Presiden Prabowo harus kita dukung bersama demi masa depan bangsa,” pungkas Silangen.
PDI Perjuangan menilai waktu sekitar 19 tahun menuju 2045 menjadi periode yang sangat menentukan. Apabila target tidak tercapai, Indonesia berpotensi terjebak sebagai negara berpenghasilan menengah yang berdampak pada kesejahteraan generasi penerus.