SULAWESI UTARA — Kepala BMKG Stasiun Geofisika Arief Tyasmata mengatakan aktivitas seismik pascagempa utama magnitudo 7,7 itu masih berlangsung fluktuatif. Dari grafik peluruhan yang dipantau, BMKG belum melihat pola penurunan aktivitas yang jelas.
"Dari grafik peluruhan masih fluktuatif dan belum terlihat jelas pola peluruhannya," ujar Arief dalam keterangan resminya, Rabu (19/8).
Berdasarkan data BMKG, dari total ribuan kejadian tersebut, sebanyak 24 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5,0. Sementara itu, getaran yang dirasakan langsung oleh masyarakat tercatat sebanyak 81 kejadian.
"Total gempa bumi susulan hingga tanggal 19 Agustus 2026 pukul 05.00 WIB atau 06.00 WITA, sebanyak 2.768 kejadian. Magnitudo terbesar 6,2 dan terkecil 1,1," kata Arief.
BMKG memperkirakan aktivitas gempa susulan di wilayah Flores dan sekitarnya akan mulai menunjukkan kondisi stabil dalam waktu dua hingga tiga pekan ke depan. Meski demikian, potensi getaran kecil masih mungkin terjadi hingga periode tersebut berakhir.
"Estimasi sekitar dua sampai tiga minggu ke depan akan stabil," ungkapnya.
Menyikapi situasi ini, BMKG terus memantau perkembangan kegempaan secara berkelanjutan. Masyarakat, khususnya korban gempa, diimbau tetap tenang dan hanya mengikuti informasi resmi yang disampaikan lembaga tersebut.
Imbauan ini dinilai penting untuk mencegah beredarnya informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Informasi keliru berpotensi menimbulkan keresahan tambahan di tengah masa pemulihan pascabencana.
Gempa bumi merupakan peristiwa bergetar atau bergoncangnya bumi akibat pergerakan atau pergeseran lapisan batuan pada kulit bumi secara tiba-tiba. Wilayah NTT sendiri dikenal sebagai kawasan rawan gempa karena berada di zona tumbukan lempeng tektonik aktif.
Rangkaian gempa susulan yang terjadi kali ini merupakan bagian dari proses penyesuaian batuan setelah pelepasan energi utama. Kondisi ini lazim terjadi pada wilayah dengan aktivitas seismik tinggi seperti Flores.