SULAWESI UTARA — Justin Ducharme, sutradara asal Vancouver, resmi meluncurkan film panjang pertamanya berjudul Seventeen ke panggung internasional. Film ini dijadwalkan tayang perdana di Scotiabank Theatre, Toronto, pada 14 September dalam rangkaian acara TIFF.
Seventeen bukan sekadar drama urban biasa. Ducharme memilih latar Downtown Eastside, kawasan kumuh di Vancouver yang jarang tersentuh kamera meski kota itu jadi lokasi syuting banyak produksi Hollywood.
Film ini mengikuti kehidupan tiga karakter utama selama 17 jam yang menegangkan. Tamara, diperankan Nizhonniya Austin, punya waktu 10 jam untuk menemukan paspornya sebelum dideportasi ke Amerika Serikat.
December (Aalayna) harus berhadapan dengan keluarganya di reservat yang sedang berduka atas kematian ayahnya. Sementara Aiden, diperankan Taio Gélinas, bekerja sebagai pekerja seks pria demi mengumpulkan uang deposit apartemen.
Ketiganya adalah orang indigenous dan queer yang hidup di bawah tekanan sistemik. Mereka tidak punya tempat aman untuk pulang, baik karena diskriminasi rasial maupun putusnya hubungan dengan keluarga di kampung halaman.
Ducharme menegaskan bahwa film ini sengaja menghindari narasi trauma yang suram. Ia ingin menampilkan ketiganya sebagai sahabat yang saling mendukung, bukan sekadar korban keadaan.
Naskah Seventeen lahir dari pengalaman Ducharme sendiri. Ia pindah dari Manitoba ke Vancouver dan sempat bekerja sebagai pekerja seks untuk bertahan hidup.
Pada 2018, Ducharme terbuka soal profesinya itu lewat film pendek berjudul Positions. Sejak saat itu, ia mengembangkan Seventeen sebagai proyek debutnya di film panjang.
"Saya tidak mencoba sepenuhnya mengubah cara pandang orang, tapi saya ingin menunjukkan bahwa terlepas dari penilaian orang atas keputusan mereka, mereka tetap manusia yang layak punya hubungan, keluarga, dan dukungan," ujar Ducharme kepada The Hollywood Reporter.
Ia juga menyoroti bagaimana karakter Tamara enggan melapor ke polisi soal paspornya yang hilang. Menurut Ducharme, Tamara tahu bahwa mendatangi pihak berwenang justru bisa berujung pada penuntutan dan isolasi lebih jauh.
Ducharme mengaku baru benar-benar memahami kawasan Downtown Eastside setelah tinggal di sana. Menurutnya, komunitas ini sering disalahpahami dan kurang terwakili di layar lebar.
"Saya ingin menunjukkan karakter indigenous kontemporer yang hidup di bawah sistem ini dan berjalan berdampingan dengannya, tapi dengan cara mereka sendiri," katanya.
Pendekatan hiper-realistis dan hangat dalam Seventeen menjadi pembeda dari drama urban lain yang kerap mengeksploitasi penderitaan. Ducharme berharap penonton bisa menemukan satu momen di mana mereka merasa terhubung dengan salah satu karakter.
"Jika mereka bisa merasa terhubung dengan salah satu dari mereka bahkan hanya satu menit, saya rasa pekerjaan saya selesai. Karena begitulah cara saya melihat orang bisa tumbuh dan punya belas kasih terhadap orang lain," tambahnya.
Kehadiran Seventeen di TIFF menandai langkah awal Ducharme di industri film Kanada. Film ini juga menjadi representasi suara indigenous dan queer yang semakin mendapat ruang di festival film internasional.