SULAWESI UTARA — Framework akhirnya menjawab kritik terbesar terhadap laptop modular buatannya: kualitas bodi. Lewat Framework Laptop 13 Pro, perusahaan asal Amerika Serikat ini menghadirkan sasis aluminium CNC yang kokoh, menggantikan desain pendahulunya yang sering terasa lentur. Laptop ini juga menjadi yang pertama di jajaran 13 inci mereka yang mengusung layar sentuh dan touchpad haptik.
Desain dan Build Quality: Lebih Premium, Tapi Tetap Ada Kompromi
Bobot 1,44 kg dan ketebalan 15,85 mm membuat Framework Laptop 13 Pro terasa solid saat digenggam. Tom's Hardware melaporkan bahwa sasis aluminiumnya hampir tidak memiliki flex, berbeda jauh dengan generasi sebelumnya yang bisa bengkok hanya dengan satu tangan. Lapisan coating pada bodi hitamnya memberikan sensasi hampir seperti beludru — unik untuk logam — meski sayangnya sangat mudah meninggalkan bekas sidik jari.
Kompromi masih terlihat di area bezel layar yang tetap menggunakan plastik dengan magnet. Rasio layar-ke-bodi pun kalah modern dibanding kompetitor. Keyboard-nya menawarkan travel 1,5 mm yang terasa penuh, tetapi tombol-tombolnya terasa lebih kaku dari rata-rata laptop premium — ada yang menyukainya, ada yang berharap tombolnya lebih empuk seiring pemakaian.
Layar: Paling Terang di Kelasnya
Framework memakai panel 13,5 inci 3:2 dengan resolusi 2880 x 1920 dan refresh rate variabel 30-120 Hz. Hasil pengukuran menunjukkan kecerahan puncak mencapai 709 nits — mengalahkan MacBook Pro (558 nits) dan laptop OLED seperti Asus Zenbook Duo (456 nits). Panel ini mencakup 114,3 persen sRGB dan 81 persen DCI-P3, hampir setara dengan layar MacBook Pro dalam reproduksi warna.
Performa: Kencang Tapi Panas
Unit yang diuji menggunakan prosesor Intel Core X9 388H dengan grafis Arc B390 (12 Xe core) dan RAM 64 GB LPDDR5X. Di Geekbench 6, skor single-core mencapai 2.952 dan multi-core 14.965. Skor multi-core ini 15,49 persen lebih rendah dari Asus Zenbook Duo dengan chip yang sama — kemungkinan besar karena Framework hanya mengandalkan satu kipas pendingin.
Saat menjalankan Cinebench 2026, suhu keyboard mencapai 43 derajat Celsius dan bagian bawah menyentuh 47 derajat Celsius. CPU tercatat mengalami throttling di sebagian besar durasi tes. Untuk tugas berat berkelanjutan, sistem pendingin ini jadi titik lemah utama.
Baterai: 16 Jam, Terbaik untuk Windows
Baterai 74,45 WHr menjadi salah satu kejutan terbesar. Dalam uji coba yang mencakup browsing web, streaming video, dan tes OpenGL ringan di kecerahan 150 nits, laptop ini bertahan 15 jam 55 menit. Angka ini mengalahkan semua laptop Windows lain dalam pengujian dan hanya kalah dari MacBook Pro (18 jam 14 menit).
Harga: Lonjakan Biaya yang Sulit Diterima
Framework Laptop 13 Pro dijual dalam dua varian: DIY Edition (tanpa RAM, SSD, dan OS) mulai dari USD 1.499 (sekitar Rp 24,7 juta), dan pre-built mulai USD 1.599 (sekitar Rp 26,3 juta). Namun, saat pengujian berlangsung, harga RAM LPCAMM2 64 GB melonjak dari USD 849 menjadi USD 1.600, membuat total konfigurasi yang diuji mencapai sekitar USD 4.023 (Rp 66,3 juta) — tanpa OS.
Kondisi ini diperparah dengan pengumuman Framework bahwa harga chip Intel X7 dan X9 akan naik. Varian dengan prosesor termahal bahkan sudah tidak bisa dipesan lagi karena alokasi terbatas dari Intel.
Sebagai perbandingan, dengan dana yang sama Anda bisa mendapatkan MacBook Pro M5 Max dengan RAM 32 GB yang jauh lebih bertenaga di multi-core dan grafis. Framework jelas unggul dalam hal modularitas dan perbaikan, tetapi harga komponen yang mahal dan tidak stabil membuat nilai jual "bawa SSD sendiri" menjadi kurang relevan.
Kesimpulan: Untuk Siapa Laptop Ini?
Framework Laptop 13 Pro adalah laptop Windows/Linux terbaik yang pernah dibuat Framework. Layar terang, baterai tahan lama, dan build quality premium adalah nilai jual kuat. Namun, harga yang melambung — terutama untuk DIY Edition — membuatnya hanya cocok bagi pengguna yang sudah memiliki RAM dan SSD, atau yang benar-benar mengutamakan kemampuan upgrade dan reparasi di atas segalanya.
Bagi pengguna Indonesia yang mencari laptop modular, perlu mempertimbangkan biaya pengiriman, bea masuk, dan ketersediaan komponen pengganti yang masih terbatas di pasar lokal. Jika prioritas utama adalah performa mentah dan ekosistem yang matang, opsi dari Apple atau laptop Windows konvensional masih lebih masuk akal secara finansial.