KOTAMOBAGU — Kehilangan anggota keluarga akibat tragedi drag race di Kotamobagu masih menyisakan luka mendalam. Namun, di tengah duka yang belum pulih, keluarga korban mengambil sikap tegas: mereka menolak jika musibah ini dijadikan bahan untuk membangkitkan kemarahan atau kepentingan pihak tertentu.
Pernyataan itu disampaikan langsung oleh perwakilan keluarga pada Selasa (18/8/2026). Mereka mengaku telah menerima kenyataan pahit ini dengan hati yang tulus dan ikhlas, dan tidak ingin keikhlasan tersebut terusik oleh polemik yang berkepanjangan.
Keluarga Minta Ruang Berduka Tanpa Provokasi
“Kami sudah ikhlas. Tolong jangan bangkitkan amarah kami. Jangan membuat luka baru di atas musibah yang sudah kami terima,” ujar pihak keluarga dalam keterangannya.
Menurut keluarga, beban kehilangan orang yang dicintai sudah sangat berat. Mereka tidak ingin tragedi yang terjadi justru berkembang menjadi perdebatan yang memanaskan suasana. Yang mereka butuhkan saat ini hanyalah ketenangan untuk melewati masa duka.
“Yang kami inginkan hanya ketenangan. Kami sudah menerima musibah ini dengan tulus dan ikhlas. Tolong jangan ada yang memanas-manasi kami atau membuat persoalan baru,” tegasnya.
Apresiasi untuk Panitia dan Pemerintah Daerah
Di tengah kesedihan, keluarga korban juga menyampaikan rasa terima kasih secara khusus kepada ketua panitia penyelenggara, Wali Kota Kotamobagu, dan Bupati Bolaang Mongondow. Perhatian dan pendampingan yang diberikan dinilai menjadi penguat di saat hati sedang diuji.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang sudah memberikan perhatian, pendampingan dan bantuan. Kami menerimanya dengan tulus dan ikhlas,” ujar pihak keluarga.
Proses Hukum Diserahkan ke Pihak Berwenang
Keluarga menegaskan tidak ingin ada adu pernyataan atau upaya memperkeruh keadaan. Mereka memilih untuk menyerahkan seluruh proses penyelesaian persoalan kepada pihak-pihak yang berwenang sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Pesan ini sekaligus menjadi pengingat bagi publik bahwa di balik peristiwa ini ada keluarga yang sedang berduka. Mereka tidak membutuhkan api, melainkan ketenangan untuk menerima kenyataan dan melanjutkan hidup.