SULAWESI UTARA — Telegram baru-baru ini mengajukan aplikasi ke Internet Corporation for Assigned Names and Numbers (ICANN) untuk memiliki domain tingkat atas (TLD) khusus, yaitu .gram. Langkah ini merupakan bagian dari upaya Telegram memperluas ekosistemnya di luar sekadar aplikasi pesan instan.
ICANN adalah lembaga internasional yang mengatur sistem penamaan domain di internet. Persetujuan dari lembaga ini menjadi syarat mutlak agar domain .gram bisa aktif dan digunakan secara luas oleh publik.
Apa Arti Domain .gram bagi Pengguna?
Jika aplikasi ini disetujui, skema penamaan yang ditawarkan cukup menarik. Username Telegram yang selama ini dikenal dengan format t.me/username berpotensi berubah menjadi alamat domain pribadi, misalnya username.gram.
Dengan format ini, pengguna tidak lagi sekadar memiliki tautan profil, melainkan sebuah alamat web utuh yang bisa dipersonalisasi. Ini bisa dimanfaatkan sebagai portofolio digital, halaman kontak, atau pintu masuk ke berbagai layanan lain yang terhubung dengan akun Telegram.
Telegram juga dikabarkan sedang mempertimbangkan untuk menghadirkan situs web interaktif yang dihosting langsung melalui platform mereka. Rencananya, situs semacam ini bisa dibuat hanya dengan satu perintah atau prompt saja, tanpa perlu keahlian teknis dari pengguna.
Mengapa Telegram Butuh Domain Sendiri?
Langkah ini bukan tanpa alasan. Sebelumnya, layanan tautan t.me milik Telegram sempat mengalami gangguan teknis pada awal tahun ini. Insiden tersebut sempat membuat akses pengguna ke tautan profil menjadi tidak stabil.
Dengan memiliki infrastruktur domain sendiri, Telegram bisa memiliki kendali yang lebih besar terhadap sistem web mereka. Ketergantungan pada layanan pihak ketiga untuk penamaan tautan bisa diminimalkan, sehingga risiko gangguan serupa dapat ditekan.
Proses Panjang Menunggu Persetujuan ICANN
Meski kabar ini menarik, domain .gram belum bisa langsung digunakan. Ada sejumlah tahapan yang harus dilalui Telegram sebelum domain tersebut resmi aktif.
ICANN akan melakukan serangkaian pemeriksaan ketat, meliputi aspek teknis, finansial, dan proses review menyeluruh. Semua tahapan ini dirancang untuk memastikan bahwa pengelola domain baru benar-benar siap dan mampu menjalankan tanggung jawabnya.
Belum ada kepastian kapan proses review ini akan selesai. Namun, jika lolos, ini akan menjadi salah satu langkah terbesar Telegram dalam membangun ekosistem web yang lebih mandiri dan terintegrasi dengan aplikasinya.
Bagi pengguna di Indonesia yang aktif menggunakan Telegram, potensi ini layak dinantikan. Kepemilikan domain pribadi dengan nama sendiri bisa menjadi nilai tambah, terutama bagi kreator konten, pebisnis online, atau profesional yang ingin membangun personal branding dengan cara yang lebih praktis.