SULAWESI UTARA — Serangan siber besar yang mengincar ekosistem kecerdasan buatan (AI) kembali terjadi. Kelompok peretas TeamPCP berhasil membobol keamanan LiteLLM, sebuah gateway open-source populer yang digunakan perusahaan untuk menghubungkan aplikasi mereka ke lebih dari 100 model bahasa besar (LLM), tanpa meretas server LiteLLM secara langsung.
Alih-alih menyerang jantung sistem, peretas menyusup melalui celah keamanan pada Trivy, sebuah pemindai kerentanan open-source dari Aqua Security yang banyak dipakai developer. Dengan menyamar sebagai pembaruan sah, mereka menyebarkan versi beracun dari Trivy yang kemudian diunduh dan dijalankan oleh sistem otomatis LiteLLM.
Kunci Digital yang Jauh Lebih Berharga dari Data Biasa
Dampak serangan ini bukan sekadar kebocoran dokumen internal. Menurut laporan bersama dari firma keamanan CloudSEK dan Hudson Rock, peretas berhasil mencuri "kunci" digital yang memberi akses luas ke infrastruktur korban. Jenis data yang dicuri meliputi:
- Kunci cloud (AWS, Azure) dan SSH keys
- Token Kubernetes untuk mengelola container
- Kredensial repositori kode dan token publishing paket
- Kunci API untuk penyedia layanan AI
Jenis kredensial ini jauh lebih berbahaya daripada data pelanggan karena memungkinkan peretas masuk ke berbagai sistem tanpa perlu mengeksploitasi celah lain. Satu kunci yang valid bisa membuka banyak pintu sekaligus.
Korban Besar dan Fakta Kredensial yang Masih Aktif
CloudSEK mencatat lebih dari 2.500 perusahaan terdampak, termasuk nama-nama besar seperti Cisco, Samsung, Salesforce, Amazon Web Services (AWS), Airbus U.S. Space & Defense, Thales Group, Deutsche Bahn, Munich Re, dan London Stock Exchange Group. Total 434.000 pipeline CI/CD ikut terpapar.
Temuan yang lebih mengkhawatirkan datang dari peneliti independen Kevin Beaumont. Ia menguji sebagian kredensial yang bocor dan menemukan beberapa di antaranya masih berfungsi, hampir lima bulan setelah insiden terjadi pada 24 Maret 2026. Ini terjadi meski sejumlah organisasi mengklaim telah melakukan rotasi kunci (mengganti kredensial lama dengan yang baru).
Arsip Data Bocor Seluas 153 GB untuk Pengecekan Publik
Hudson Rock telah merilis arsip data sebesar 153 GB dari total 195 TB file yang berhasil mereka kumpulkan dari serangan ini. Perusahaan dan individu bisa menggunakan alat pengecekan domain yang disediakan kedua firma keamanan tersebut untuk memastikan apakah kredensial mereka ikut bocor.
Insiden ini menjadi pengingat keras bagi perusahaan di Indonesia yang mulai mengadopsi alat AI open-source. Proses otomatisasi yang mengunduh dependensi tanpa verifikasi ketat, seperti yang terjadi pada LiteLLM, bisa menjadi celah masuk bagi peretas. Mengecek ulang riwayat unduhan perangkat lunak dan segera mengganti semua kredensial internal, terutama yang terhubung ke layanan cloud dan AI, adalah langkah mitigasi yang tidak bisa ditunda.