MINAHASA UTARA — Perusahaan menilai keberhasilan penggunaan bibit unggul tidak ditentukan semata oleh kualitas genetik, melainkan juga cara peternak mengelola kandang dan lingkungan pemeliharaan. Karena itu, PT SOW menyiapkan kegiatan edukasi bagi calon mitra, mulai dari pengenalan kebutuhan fasilitas, pengaturan lingkungan kandang, hingga manajemen pemeliharaan ternak.
Direktur PT SOW, Andreas Surjaputra, menjelaskan bahwa bibit berkualitas perlu diimbangi dengan pengelolaan kandang yang sesuai. Perusahaan tidak hanya menyiapkan calon indukan, tetapi juga merancang pendampingan bagi peternak yang akan menjadi mitra.
Kandang Tertutup Jadi Kunci Pengaturan Suhu dan Kelembapan
Di fasilitas PT SOW, pengaturan suhu dan kelembapan menjadi bagian dari sistem pemeliharaan harian. Sistem itu mengadopsi pola peternakan ayam modern.
"Paling sederhana, sistem di peternakan kami menggunakan closed house, seperti peternakan ayam modern yang kandangnya tertutup. Suhu dan kelembapan kami atur agar hewan ternak mendapatkan lingkungan yang optimal untuk berkembang biak," jelas Andreas.
Dari total produksi yang diperkirakan mencapai 7.000 hingga 8.000 ekor, tidak seluruhnya diarahkan menjadi calon indukan. Ternak yang memenuhi standar akan diseleksi untuk mendukung pengembangan pembibitan.
Sementara ternak yang tidak masuk kualifikasi calon indukan dapat dimanfaatkan sebagai ternak potong maupun produk turunan. Perusahaan saat ini lebih memprioritaskan penyediaan calon indukan bagi peternak di Sulawesi Utara dibandingkan hanya berfokus pada produksi daging.
Bupati Minut Sebut Kebutuhan Daging Babi di Kawasan Utara Tinggi
Rencana pengembangan itu menjadi perhatian dalam kunjungan kerja reses Komisi IV DPR RI di lokasi PT SOW, Jumat (9/10/2026). Bupati Minahasa Utara Joune J.E. Ganda menilai keberadaan fasilitas peternakan modern memperkuat sektor peternakan daerah.
Menurut Joune, kebutuhan daging babi yang tinggi di kawasan utara Indonesia menjadi salah satu alasan pengembangan usaha tersebut punya prospek ekonomi. Manfaatnya tidak berhenti pada peningkatan produksi.
"Perusahaan ini juga membangun kemitraan dengan peternak masyarakat, akademisi, dan para ahli hewan. Dengan demikian, ekosistem peternakan bisa terbentuk dan tentunya akan memberikan manfaat serta keuntungan bagi daerah dan masyarakat," ujar Joune.
Dalam kunjungan tersebut, Joune turut didampingi Asisten II Roby Parengkuan dan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Minahasa Utara Bertha Katuuk.
Minahasa Utara Jadi Wilayah Prioritas Sebelum Kemitraan Diperluas
Andreas menyebut Minahasa Utara akan menjadi wilayah prioritas pengembangan kemitraan sebelum model serupa diterapkan di daerah lain. Kerja sama dengan pemerintah daerah diarahkan untuk memperkuat pencegahan penyakit ternak, mengingat aspek kesehatan hewan menjadi kebutuhan mendasar dalam usaha pembibitan.
"Kami akan fokus terlebih dahulu di Minahasa Utara. Dengan dukungan pemerintah daerah, apa yang kami lakukan di Minahasa Utara bisa menjadi contoh bagi wilayah lain. Melalui kerja sama, kita dapat melakukan langkah-langkah preventif terhadap penyakit ternak dan mengembangkan populasinya," kata Andreas.
Penerapan teknologi modern menghadirkan kebutuhan penyesuaian bagi peternak lokal. Mulai dari fasilitas kandang, keterampilan pengelolaan, hingga pengendalian penyakit.
Karena itu, keberhasilan pengembangan peternakan modern di Desa Batu tidak cukup diukur dari besarnya kapasitas produksi perusahaan. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah sejauh mana peternak lokal dapat mengakses bibit unggul, memperoleh pendampingan, dan meningkatkan kemampuan usaha tanpa terbebani perubahan sistem pemeliharaan yang belum mereka kuasai.
Dengan Minahasa Utara sebagai wilayah prioritas, efektivitas pola kemitraan PT SOW akan menjadi salah satu penentu apakah investasi peternakan modern tersebut benar-benar memperluas peluang ekonomi bagi masyarakat setempat.