SULAWESI UTARA — Keputusan BI menaikkan BI Rate ke level 5,75 persen pada dua bulan terakhir terbukti efektif membendung gejolak nilai tukar. Destry menyebut instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN) menjadi dua kanal utama yang paling banyak menyerap dana investor asing pada periode tersebut.
"Dampaknya kita lihat yang pertama tentu inflow. Inflow masuk memang saat ini baru di SBN dan SRBI. Sehingga di kuartal II kenaikannya cukup signifikan. Totalnya sudah terjadi inflow sekitar USD8,5 sampai USD9 miliar," ujar Destry dalam konferensi pers Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK) di Jakarta, Senin (3/8).
Destry menjelaskan bahwa kenaikan 100 bps bukan keputusan yang diambil tanpa perhitungan matang. Ada dua tekanan eksternal utama yang mendorong bank sentral untuk mengorbankan pertumbuhan demi stabilitas dalam jangka pendek.
Pertama, tensi geopolitik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memicu lonjakan harga energi global. Kedua, ekspektasi pasar bahwa bank sentral AS (The Fed) akan mempercepat kenaikan Fed Funds Rate (FFR). Kombinasi ini menciptakan volatilitas tinggi yang berpotensi menggerus cadangan devisa dan melemahkan rupiah.
Selain mengamankan cadangan devisa, dampak positif kebijakan ini juga terlihat dari laju inflasi yang mulai mendingin. BI mencatat inflasi volatile food atau harga pangan bergejolak turun signifikan ke level 2,52 persen year on year (yoy) pada Juli 2026, dibandingkan bulan sebelumnya yang sempat menyentuh di atas 5 persen.
Adapun inflasi inti berada di posisi stabil 2,76 persen yoy, sementara inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) tercatat 2,88 persen, turun dari posisi sekitar 3 persen pada bulan sebelumnya. Destry menambahkan bahwa pergerakan rupiah dalam beberapa hari terakhir menunjukkan tren yang cukup terkendali setelah periode volatilitas tinggi.
Bagi investor, masuknya dana asing ke SBN dan SRBI mengindikasikan tingkat kepercayaan terhadap instrumen rupiah masih tinggi, meskipun imbal hasil (yield) yang ditawarkan menjadi lebih atraktif akibat kenaikan suku bunga. Kondisi ini menciptakan momentum positif bagi pasar obligasi domestik.
Namun, di sisi lain, pelaku usaha manufaktur dan sektor riil perlu mencermati dampak lanjutan dari biaya pinjaman yang lebih tinggi. Keputusan BI untuk memprioritaskan stabilitas nilai tukar dibandingkan pertumbuhan ekonomi menunjukkan bahwa bank sentral menilai risiko pelemahan rupiah lebih berbahaya bagi fundamental ekonomi jangka panjang dibandingkan perlambatan konsumsi akibat suku bunga tinggi.
Ke depan, pasar akan mencermati apakah BI akan mempertahankan sikap hawkish ini hingga akhir tahun, atau mulai melonggarkan kebijakan jika tekanan eksternal mereda dan inflasi inti terus berada dalam rentang target 2,5 persen plus minus satu persen.