SULAWESI UTARA — Kebakaran hutan yang tidak terkendali kini menjadi ancaman kesehatan global yang serius. Data menunjukkan sekitar 90% dari total massa partikel yang dikeluarkan kebakaran hutan berupa materi partikulat (PM) berdiameter 2,5 mikrometer atau lebih kecil (PM2,5), yang mampu menembus jauh ke dalam paru-paru manusia.
Diperkirakan 80–95% kebakaran hutan di seluruh dunia dipicu oleh aktivitas manusia, seperti korsleting saluran listrik, api unggun, atau penggunaan peralatan. Sisanya berasal dari pemicu alami seperti petir.
Asap kebakaran hutan bukan sekadar polusi lokal. Partikel dan gas beracun dapat terbawa angin hingga ribuan kilometer, menurunkan kualitas udara di wilayah yang jauh dari titik api. Komposisinya pun kompleks: selain PM2,5 dan PM10, asap mengandung partikel ultrahalus (UFP), ozon, nitrogen dioksida, hidrokarbon aromatik polisiklik (PAH), hingga logam beracun seperti timbal dan mikroplastik.
Ketika kebakaran melahap bangunan dan material buatan manusia, abu yang dihasilkan mengandung kadar logam berat beracun, asbes, dan PAH yang lebih tinggi. Ini memperburuk risiko kesehatan bagi penduduk di sekitar area terdampak.
Paparan asap kebakaran hutan dalam jangka pendek memicu beragam gangguan kesehatan, mulai dari gejala ringan seperti sakit kepala dan iritasi mata, hingga kondisi serius seperti pusing, mengi, dan nyeri dada.
Dampak yang lebih berat tercatat pada sistem pernapasan, termasuk serangan asma dan sesak napas yang berujung pada kunjungan unit gawat darurat. Kelompok lanjut usia (65 tahun ke atas) paling rentan mengalami efek kardiovaskular seperti jantung berdebar hingga memerlukan rawat inap di rumah sakit.
Frekuensi dan keparahan kebakaran hutan meningkat secara global. Peristiwa besar terjadi di California (2018, 2025), Australia (2019–2020), Siberia (2019), Kanada (2023), Chili (2024), serta Eropa Barat dan Amerika Utara (2026). Jutaan hektar lahan hangus, infrastruktur dan ribuan rumah hancur.
Proyeksi FAO dan IPCC menyebut kebakaran hutan ekstrem bakal meningkat hingga 50% pada akhir abad ini. Perubahan iklim mempersempit periode pembakaran yang aman dan meningkatkan ketidakpastian perilaku api, sehingga risiko kebakaran tak terkendali makin tinggi.
Sektor kesehatan masyarakat memegang kunci dalam respons multisektoral, baik untuk pencegahan maupun intervensi pascakebakaran. Sistem peringatan dini, komunikasi risiko yang efektif, dan kesiapan layanan kesehatan menjadi prioritas.
Upaya pengendalian risiko juga harus beradaptasi dengan perubahan iklim. Integrasi pengetahuan tradisional dari praktisi adat tentang pembakaran budaya serta solusi teknologi disebut sebagai langkah yang perlu diadopsi untuk mengurangi risiko kebakaran tak terkendali di masa depan.